Showing posts with label ternak ayam. Show all posts
Showing posts with label ternak ayam. Show all posts

Thursday, 16 March 2017

ANALISA KEGAGALAN PENETASAN TELOR

Dalam penetasan telur ayam dan sebagainya dengan media mesin penetas biasanya tidak selalu mulus dan berhasil menetas semuanya, karena terkadang bisa di akibatkan kurang pengetahuan dalam penetasan media mesin tetas dan sebagainya.
Di sini akan membahas faktor-faktor kegagalan dalam menetaskan telur dan bagaimana solusinya. 
Gambaran Telur yang ada embrionya
Saat seleksi telur pertama, tidak terdapat pembuluh darah/ akar di dalam telur, biasanya dalam pemeriksaan pertama dilakukan pada 3-5 hari dari mulai penetasan.
Penyebab :

  1. Telur tidak fertile/ dibuahi
  2. Telur dibuahi, namun embrio telah mati
Solusi :

  1. Perbaiki manajemen pemeliharaan bibit.
  2. Periksa posisi telur, sisi tumpul harus diatas.
Saat seleksi telur kedua, telur dibuahi namun banyak embrio mati.
Seleksi kedua biasanya dilakukan setelah hari ke 15 sampai 17 
Penyebab :

  1. Tempratur salah. (biasanya terlalu panas)
  2. Pemutaran telur kurang maksimal.
  3. Kekurangan oksigen. (dataran tinggi O2 tipis)
  4. Bibit telur kurang baik.
Solusi :
  1. Periksa akurasi thermometer, letakan di tempatnya.
  2. Putar telur minimal >3 kali sehari.
  3. Jangan letakan mesin di ruang tanpa cukup pentilasi.
  4. Perbaiki manajemen pemeliharaan bibit.
Telur berisi embrio, tetapi tidak menetas.
Penyebab :
  1. Kelembaban kurang.
  2. Bibit kurang baik.
Solusi :
  1. Periksa air, tambah spons di bak dan atau sepray telur dengan air.
  2. Perbaiki manajemen pemeliharaan bibit.
Telur menetas terlalu lambat/ cepat, lebih dari atau kurang dari normalnya.
Penyebab :
  1. Tempratur terlalu tinggi/ rendah.
Soulusi :
  1. Periksa akurasi thermometer.
Anak ayam lama menetas, lumpuh/ cacat dan ada noda darah.
Penyebab :
  1. Bibit kurang baik atau lemah.
Solusi :
  1. Perbaiki manajemen pemeliharaan bibit.
Baca juga artikel cara penetasan telur yang baik.
Sekian terimakasih.

Thursday, 9 April 2015

TEKNIK MEMELIHARA AYAM

Teknik memelihara ayam merupakan kegiatan yang langsung berhubungan dengan pemeliharaan ayamnya. Di sisni dibutuhkan perhatian khusu. Untuk usaha atau kegiatan ternak di halaman rumah tidak serumit usaha bersekala besar, terutama pada saat kondisi iklim tidak menguntungkan atau wabah penyakit sedang menyerang.
  • Jenis Usaha
Pada usaha ternak ayam kampung ada dua jenis usaha yang dapat di kembangkan, yaitu ayam kampung yang dipelihara hanya sebagai pedaging dan usaha dwifungsi. Usaha dwifungsi adalah ayam yamg di manfaatkan telur dan sekaligus dagingnya bila sudah afkir.
  • Khusus Pedaging
Ayam kampung ada yang dipelihara untuk dimanfaatkan dagingnya saja. Karena tidak sampai pada permanfaatan telur, biasanya ayam kampung ini hanya dipelihara 2-3 bulan. Sesudah mencapai ukuran tertentu langsung dimanfaatkan dagingnya.

  • Dwifungsi
Lain halnya bila Anda memelihara ayam kampung secara dwifungsi, yaitu untuk diambil telurnya dan dgingnya. Ayam kampung itu dipelihara hingga 1-1,5 tahun. Apabila telur yang dihasilkan akan di tetaskan sebagai bibit maka pemeliharaan ayam betina harus dicampur dengan ayam jantan dengan perbandingan 1 jantan 8 betina. Ayam betina yang sudah tidak produktif kemudian dimanfaatkan sebagai ayam potong.
  • Memilih Bibit
Bibit merupakan titik tolak dari keberhasilan usaha ternak. Bibit yang baik dapat diharapkan mampu penghasilkan produk yang baik asalkan dipelihara dengan baik.
- Telur
Telur diambil dari induk ayam kampung. Telur sebagai calon bibit dapat diproduksi sendiri atau diperoleh dari peternak lain. Telur itu harus di tetaskan terlebihdahulu.Cara untuk menetaskan telur dalam sekala besar membutuhkan mesin tetas. Penetasan secara alami dilakukan oleh induknya dengan dierami. Lama pengeraman 21-22 hari. Adapun telur yang baik untuk bibit harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
  1. Telur dipilih dari induk yang baik dan sehat, tidak mengidap penyakit.
  2. Bentuk telur normal, oval atau bulat lonjong, tidak cacat, dan bersih. Telur yang bentuknya telur bulat atau lonjong memiliki daya tetas rendah.
  3. Kulit mulus, tidak ada bintik atau berecak
  4. Pada ujung yang tumpul masih terdapat ruang udara, yang dapat dilihat dengan menyorotkan lampu senter keujung telur yang runcing.
  5. Telur memiliki bonot antara 35-40 gram. Telur yang berukuran kecil menghasilkan anak ayam yang berukuran kecil dan lambat pertumbuhannya. Telur yang berukuran besar biasanya memiliki daya tetas rendah.
  6. Penyimpanan telur cukup lama (lebih dari satu minggu) dapat membuat daya tetas telur rendah.
-DOC
Bibit ayam kampung dapat diperoleh dengan membeli DOC (day old chicken), anak ayam umur satu hari. Anda dapat membelinya di toko pakan, rekanan atau peternak yang menyediakan DOC.
Untuk mendapatkan DOC yang baik, Anda harus mengenali setandar DOC yang baik. Bila sudah terbiasa maka Anda tidak akan mengalami kesulitan. Seleksi anak ayam dapat dilakukan dengan menggunakan setandar  mutu sebagai berikut:
  1. Fisik tubuh padat, sehat, tidak cacat, pusar tertutup rapi, bulu halus dan baik
  2. Badan seimbang dan ukurannya seragam/sama
  3. Pantat bersih, tidak kotor, dan berwarna putih.
  4. Mata bulat, cerah dan paruh lurus.
  5. Kaki kokoh, lurus dan berminyak, dapat berdiri tegak dengan dua kaki.
  6. Geraknya lincah
  7. Nafsu makan baik.
  • Pemberian Pakan
Anak ayam, setelah masuk kandang, harus segera diberi pakan dan minum. Makan dan minum merupakan kebutuhan yang sangat vital. Pemberian pakan dan minum yang sesuai lebih baik karena akan memberikan dampak pada pertumbuhan dan produktivitasnya.
  • Perawatan
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan selama pemeliharaan. Ayam harus dirawat dengan baik, selain deberi pakan dan minum secara rutin. Adapun perawatan yang harus dilakukan adalah sebagai berikut.
  1. Untuk mencegah serangan penyakit, anak ayam divaksinasi, terutama ND-IB untuk tetelo dan gumboro. Vaksinasi untuk pencegahan penyakit ND, infeksi pernafasan, dan gumboro. Disarankan agar dilakukan vaksinasi ND-IB tetes mata sebelum umur 1 minggu, vaksin gumboro sebelum umur 2 minggu.
  2. Untuk menambah kekuatan dan daya tahan tubuh, terutama pada musim yang kurang menguntungkan, anak ayam diberi suplemen vitamin setiap minggu dengan pengaturan diberikan 3 hari berturut-turut, istirahat selama 3 hari, dan dilanjutkan 3 hari berikutnya. Dosis suplemen vitamin sesuai aturan yang tertera dalam kemasan, yaitu 0,5% dari volume air minumyang diberikan.
  • Produksi
Produksi merupakan hasil akhir usaha yang diharapkan. Untuk pemeliharaan ayam kampung ada dua jenis kegiatan sesuai pemanfaatan produknya.
  1. Ayam Pedaging : Ayam pedaging dapat dipanen hasilnya setelah dipelihara minimal selama 2 bulan. Ayam dapat dipotong untuk dimanfaatkan dagingnya.
  2. Ayam Dwifungsi : Ayam kampung mulai bertelur setelah berumur 5,5-6 bulan. Ayam kampung yang dipelihara secara khusus dapat menghasilkan 100-150 butir telur per tahun. ayam kampung dapat diafkir sebagai ayam petelur setelah 6-12 bulan masa produksi. Selanjutnya ayam tersebut dapat di manfaatkan sebagai ayam pedaging.
Baca artikel Tips sukses usaha ternak ayam kampung 

Thursday, 2 April 2015

PROSPEK USAHA AYAM KAMPUNG

Ayam merupakan jenis unggas yang dapat dimanfaatkan telur dan dagingnya untuk dikonsumsi. Bahkan bulu dan kotorannya juga dapat dimanfaatkan. Bulunya untuk kerajinan dan kotorannya untuk pupuk. Ayam termasuk unggas yang sangat mudah dipelihara, terutama ayam kampung. Ayam dapat dipelihara di mana saja, tidak membutuhkan tempat khusus, bahkan diliarkan pada siang hari juga dapat.
Prospek
Ayam kampung mempunyai prospek yang cukup bagus sehingga banyak orang mulai memeliharanya.
  • Pandangan masyarakat
Masyarakat Indonesia masih sangat menyukai ayam kampung. Mereka menganggap ayam kampung lebih unggul dibanding ayam ras. Hal itu menyebabkan masa depan ayam kampung sangatlah baik.
  • Kebutuhan protein dan gizi hewan
Manusia membutuhkan asupan protein hewani, yang salah satunya dapat dipenuhi dari telur dan daging ayam. Kandungan protein daging ayam hampir sama dengan daging sapi, dan lebih baik dari telur ayam dan susu sapi.
Ayam termasuk hewan yang berdaging putih sehingga kandungan lemaknya lebih rendah dibanding daging merah, asalkan ayam tersebut tidak diberi pakan konsentrat yang menyebabkan adanya timbunan lemak di tubuhnya.
Telur ayam kampung mengandung kalori, protein, zat besi, retinol (Vitamin A), karbohidrat, thiamin, Vitamin E, lemak omega-3, vitamin C, vitamin D, betakaroten, protein, lecihtin. Selain mengandung sumber energi juga mengandung sumber protein yang cukup tinggi. Energi dipakai untuk mengganti energi yang digunakan untuk beraktivitas dan berpikir, sedangkan protein di perlukan untuk mengganti bagian organ yang rusak.
Setiap 100 gram daging ayam kampung mengandung 74% air, 22% protein, 13 mg zat kalsium, 190 mg zat fosfor dan 1,5 mg zat besi. Juga mengandung pitamin A, vitamin C, dan E. Daging ayam selain berkadar lemak rendah, dengan asam lemak tidak jenuh, merupakan protein paling ideal bagi anak kecil, orang setengah baya dan orang lanjut usia, penderita penyakit pembuluh darah jantung dan orang yang lemah pasca sakit.
  • Kondisi daging
Daging ayam kampung memilikI teskturyang lebih kompak dan kenyal sehingga bila dimasak tidak cepat lembek. Bila diberi pakan yang baik, dagingnya tidak banyak mengandunglemak.
  • Harga di pasaran
Harga ayam kampung di pasar masih bagus. Bila di banding harga ayam ras, harga ayam kampung jauh lebih mahal. Namun bila di bandingkan dengan harga daging sapi dan kambing, harga ayam kampung masih lebih rendah, sehingga lebih terjangkau.
  •  Belum banyak diternak secara intensif
Ayam kampung belum banyak yang diternakan secara intensif dengan sekala yang relatif besar. Ada yang mengusahakan untuk menternakan namun hanya dalam sekala kecil hingga sedang.
Jadi peluang usaha ternak ayam kampung sangatlah menjanjikan untuk meraih kesuksesan.
  • Lebih mampu beradaptasi
Ayam kampung lebih mudah menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan, lebih tahan dengan perubahan lingkungan dan musim. Untuk dipelihara dengan sekala rumahan lebih cocok.
Mengenal ayam 
Ayam kampung (Gallus domesticus) sebenarnya berasal dari keturunan ayam hutan (Gellus varius-varius Linaeus). Nenek moyang ayam kampung yang sekarang diternakan belum jelas betul. Ada dugaan bahwa ayam kampung di Indonesia merupakan hasil domestikasi dari negara lain seperti china dan India.
  • Klasifikasi
Ayam kampung memiliki klasifikasi sebagai berikut;
Kingdom : Animalia
Filum      : Chordata
Kelas      : Aves
Ordo       : Galiformes
Famili     : Phasianidea
Genus     : Gallus
Sepesies : Gallus gallus 
Untuk membudidayakan ayam kampung belum ada pembedaan antara ayam kampung pedaging dengan ayam kampung petelor. Kebanyakan ayam kampung memiliki dwifungsi, sebagai ayam petelor dan ayam pedaging/sayur/potong.
Perkembangan ayam kampung di Indonesia terjadi antara sesama atau antar lokal dan belum terjadi perkawinan dengan ayam ras. Perkembangan dengan pemuliaan atau perbaikan genetik belum banyak dilakukan.
Ada beberapa jenis ayam lokal yang telah teridentifikasi masuk dalam rumpun ayam pelung, kedu, kinanten, sumatera, bekisar, sentul, nunukan, cemani, walik maleo, tukung, ayunai, melayu, tolaki, nusa penida, sedayu, olagan, merawas, alas, japer.
Ayam kampung yang sekarang kita kenal memiliki ciri khas bentuk badan cenderung ramping, tidak gemuk, tubuh agak tinggi, tegap, dada rata dengan ukuran kecil. Berat ayam kampung dewasa berkisar 1-1,6 kg, di capai pada umur 4-8 bulan.
Bulu ayam kampung tidak memiliki warna khusus, tetapi sangat bervariasi, mulai dari kemerahan, merah gelap, coklat, putih, kuning, atau kombinasi seberapa warna.

Thursday, 12 March 2015

CERITA SUKSES PETERNAK AYAM PETELOR

Saya pernah bertemu dengan pak haji seorang peternak yang sukses, beliau sudah menghasilkan 9 jta perharinya, Subhanallah sangat luar biasa berarti penghasilan pak haji perbulannya sebesar Rp 270,000,000 sangat mengiurkan bukan? Dan pasti Anda juga kepingin penghasilan seperti pak haji!!!!!
Tapi kita jangan melihat sekarang pak haji yang sudah sukses, kita harus melihat kebelakang di waktu membangun usaha ternak ayam tersebut.
Awalny pak haji adalah seorang yang biasa-biasa saja seperti kita bukan dari golongan orang yang punya bahkan beliau dulunya sebagai pedagang sayuran keliling, Penghasilan beliau dulunya cuman 20000 per harinya kata pak haji, pak haji selalu menyisihkan uang daganganya tersebut.
Singkat cerita pak haji sudah bisa membeli ayam petelur sebanyak 25 ekor, dari mulai 25 ekor pak haji mempelajari cara ternak ayam petelur yang baik, dia selalu mencatat apa yang sudah dia alamin selama menjadi peternak tersebut, jatuh bangun dia selalu oftimis dengan apa yang dia dambakan selama ini.
Sampai saat ini pak haji sudah mempunyai 100 ribu ekor ayam petelur dari mulai 25 ekor tersebut, dan beliau juga sudah banyak mitranya bahkan 100 mitra bahkan lebih.
Beliau selalu berpesan : Jangan mudah putus asa dalam membangun sebuah usaha, Jangan takaut dengan adanya resiko atau keggalan karena hal tersebut yang bisa membuat kita mendekati kesukSESAN.

HIDUP TAK SELAMANYA BERJALAN MULUS
BUTUH_batu kerikil_ supaya kita BERHATI-HATI
BUTUH_semak berduri_ supaya kita WASPADA
BUTUH_Pesimpangan_ supaya kitaBIJAKSANA dalam MEMILIH
BUTUH_Petunjuk jalan_ supaya kita punyaHARAPAN tentang arah masa depan
Butuh MASALAH supaya kita tahu kita punya KEKUATAN
BUTUH_Pengorbanan_ supaya kita tahu cara BEKERJA KERAS
BUTUH _airmata_ supaya kita tahu MERENDAHKAN HATI
BUTUH_dicela_ supaya kita tahu bagaimana cara MENGHARGAI
BUTUH_tertawa n senyum_ supaya kita tahu MENGUCAPKAN SYUKUR
BUTUH_Orang lain_ supaya kita tahu kita TAK SENDIRI
Jangan selesaikan MASALAH dgn mengeluh, berkeluh kesah, dan marah Selesaikan saja dgn sabar, bersyukur, dan jangan lupa TERSENYUM
Teruslah MELANGKAH walau mendpt RINTANGAN
Jangan takut Saat tidak ada lg tembok utk bersandar masih ada lantai utk bersujud
Perbuatan baik yg paling sempurna adalh perbuatan baik yg tidak terlihat Namun.. Dpt dirasakan hingga jauh kedlm relung hati
"Jangan menghitung apa yg hilang namun hitunglah apa yg tersisa"
Sekecil apapun penghasilan kita, pasti akan cukup bila digunakan utk Kebutuhan Hidup.
Sebesar apapun penghasilan kita, pasti akan kurang bila digunakan utk Gaya Hidup
Tidak selamanya kata-kata yg menyakitkan itu salah.Hidup ini terlalu singkat lepaskan mereka yg menyakitimu, sayangi mereka yg peduli padamu. Dan berjuanglah utk mereka yg berarti bagimu
Bertemanlah dg semua org, tapi bergaulah dg org yg berintegritas dan mempunyai nilai hidup yg benar, krn pergaulan akan mempengaruhi cara hidup kita dan masa depan kita.

Baca juga Tips Sukses Usaha Ternak Ayam Kmpung

Saturday, 26 April 2014

CARA PENYUSUSN RANSUM

Untuk membahas penyusunan ransum dengan mempergunakan metode pendugaan sederhana, dimulai dari tahap pertama dengan hanya berdasarkan kandungan dan kebutuhan nutrisi saja. Tahap kedua barulah disertai dengan harga dan harga relatif. Tahap ketiga menyertakan selang persentase kandungan bahan bila harga berubah. Dari tiga tahap itu, yang terpenting adalah tahap pertama dan dari sinilah prosedur perhitungannya dimulai. Sedangkan tahap kedua dan ketiga dengan cara perhitungan yang sama.
M.P.S. ini diperlukan langkah-langkah sebagai berikut:
  1. Ketahui dahulu bahan-bahan makanan yang hendak digunakan sebagaimana telah dibahas dalam postingan sebelumnya.
  2. Ketahui ransum ini disusun untuk ayam kampung usia berapa atau masa produksi berapa.
  3. Buatlah Tabel M.P.S. untuk mempermudah perhitungan. sebagaimana dicontohkan di bawah ini


 Tabel M.P.S. ini untuk mempermudah bila suatu saat ada penyusunan. Bila diperhatikan Tabel tersebut, dapat dilihat sebagai berikut,
  • Ada kolom bahan makanan untuk menempatkan bahan makanan yang digunakan dalam formula ransum. Tentu saja bahan makanan yang masuk dalam kolom ini telah melalui butir 1 tadi, jadi telah setabil atau tidak diganti-ganti lagi.
  • Kemudian ada kolom persentase, bahan makanan yang akan digunakan dalam formula itu dalam jumlah persen dan pada bagian inilah dilakukan penambahan atau pengurangan persentase dengan cara diduga-duga.
  • Kemudian terdapat matriks atau kelompok kandungan nutrisi. Apa yang dimaksud ini adalah kandungan nutrisi yang ada itu kelak dijumlahkan per kolom dan dimasukan dalam baris total di jumlahkan ke bawh. Unsur nutrisi yang hendak dimasukan dalam Tabel M.P.S. terserah pada kita, dalam contoh tabel di atas terdiri dari: Protein, Energi, Tryptophan dan Lysine. Kita dapat saja memperpanjangnnya dengan menambahkan Calcioum, Phospor atau unsur nutrisi lainnya.
  • Kolom harga yang terdiri dari harga absolut dan harga relatif untuk tiap bahan, kemudian dijumlahkan ke bawah dan di letakan hasilnya pada baris total itu.
  • Baris kebutuhan nutrisi di bawah tabel M.P.S. itu merupakan kebutuhan nutrisi ayam kampung yang bersangkutan. Untuk mengetahui kebutuhan nutrisi ayam kampung ini lihat di postingan pengantar nutrisi.
Cara mempergunakan Tabel M.P.S. itu merupakan kebutuhan formula ransum adalah sebagai berikut.
Tempatkan dahulu bahan makanan yang sudah di tempatkan di kolom bahan makanan, urut dari bawah makanan yang diduga terbesar penggunaannya hingga yang terkecil. Misalnya dan kerap kali terjadi, jagung kuning yang terbanyak penggunaannya, maka jagung kuning yang pertama. Cara mengurut seperti ini akan mempermudah dalm perhitungan kelak. Cara mengurut kedua adalah berdasarkan fungsi bahan itu: Bahan makanan nabati sumber Energi dan Protein, terakhir bahan makanan sumber hewani dan tambahan. Cara mengurut seperti ini mempermudah perhitungan untuk menambah atau mengurangi bahan makanan tertentu yang belum sesuai dengan kebutuhan nutrisi ayam kampung tersebut. Contoh :
Cara pengurutan seperti ini memperkecil kesalahan akibat lelah atau ruwet menghitung. Pada protein hasil perhitungan lebih 2% misalnya, cukup melihat bahan  makanan sumber protein dan yang lainnya tidak perlu. Sehingga mengurangi kelelahan atau kerepotan dalam menghitung. Dalam contoh di atas lihat saja tepung ikan dan/atau bungkil kacng kedelai. Bila perhitungan lebih dari 2% kita dapat mengurangi bungkil kacang kedelai 1 hingga 1,4%-karena bungkil kacang kedelai dalam formula ransum unggas digunakan dalam persentase yang lebih besar daripada tepung ikan-dan mengurangi tepung ikan bila masih diperlukan sebab dengan mengurangi bungkil kacang kedelai 1 hingga 1,4% itu dan kandungan protein dihitung kembali maka kemungkinan kelebihan yang 2% tadi sudah dapat diatasi. Bila masih belum teratasi juga, barulah tepung ikan dikurangi sekitar 0,2 hingga 0,4%.

Saturday, 19 April 2014

PEMBUATAN RANSUM

Dalam pemberian makanan ayam kampung dikenal dua cara, yaitu diberikan bahan makanan langsung tanpa diracik dan pemberian berupa ransum. Hal yang pertama umumnya bersifat tambahan, berupa biji-bijian, dan yang terakhir itu berupa kumpulan bahan-bahan makanan yang disusun dengan suatu cara tertentu untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya, sehingga ransum merupakan makanan utama yang penting untuk ayam kampung tersebut.
Sebagaimana batasannya, ransum ini terdiri dari bahan-bahan makanan yang memenuhi syarat. Apa yang dimaksud dengan memenuhi syarat ini adalah syarat teknis, terdiri dari kualitas bahan makanan itu sendiri. Bila digunakan jagung kuning sebagai sumber energi, maka jagung kuning yang dibeli benar-benar berkualitas sebagai sumber energi. Semua persyaratan teknis dan pembahasannya sudah dikemukakan pada bab yang baru lewat ini. Kemudian bahan makanan itu juga harus memenuhi syarat ekonomis, yaitu dari sudut harganya. Hal ini juga telah di bahas pada bab yang baru lewat itu. Bila bahan-bahan makanan yang hendak dijadikan ransum telah siap, bukan berarti ransum dapat langsung dimakan. Sebab masih ada masalah, yakni bagaimana dan berapa bagian bahan-bahan makanan itu harus digunakan hingga memenuhi kebutuhan  ayam kampung tersebut. Untuk hal ini diperlukan suatu pegangan dan cara, sehingga bahan-bahan makanan  itu dapat terformulasikan menjadi ransum. Cara inilah yang dinamakan "Metode Penyusunan Ransum", yaitu cara untuk menyesuaikan kandungan nutrisi bahan-bahan makanan terpilih itu dengan kebutuhan nutrisi ayam kampung tersebut. Jadi intinya adalah membuat kandungan nutrisi bahan-bahan makanan tersebut relatif sama dengan kebutuhan nutrisi ayam kampung, sehingga bila ransum tersebut dimakan, diharapkan kebutuhan nutrisinya terpenuhi. Berdasarkan "relatif sama" itulah dikenal beberapa metode penyusunan ransum sebagai langkah wal untuk membuat formula ransum, sebelum ransum dibuat dengan landasan formula yang sudah terbentuk. Formula yang sudah terbentuk itu bagikan resep masakan manusia yang siap untuk diracik.
Apabila bahan makanan sudah ada, formula ransum sudah tersusun, maka bahan-bahan makanan dapat diracik sesuai formula yang sudah dibuat dan jadilah ransum. Ransum itu dapat dibuat halus bagikan tepung yang bisa dimakan "ransum all-mash" atau di buat berbentuk butiran terpecah dan dikenal dengan sebutan "ransum Cruble". Semua itulah yang dinamakan proses "pembuatan ransum" yang akan di bahas dalam bab ini.
Pembuat ransum tentu tidak lepas dari aspek nutrisi dan makanan atau dikenal sebagai teknis dan juga segi ekonomis. Ransum yang hendak dibuat tentu tidak akan lebih mahal dari pada ransum yang dibuat oran lain atau minimal sama. Lagipula, ransum yang dibuat diusahakan memberikan biaya makanan yang sekecil mungkin, bukan sebaliknya, Oleh sebab itulah, pembahasan pada bab ini tidak akan lepas dari segi ekonomisnya baik itu ekonomi makanan unggas maupun nutrisi ekonomi yang merupakan bagian utuh dengan aspek teknisnya.

Membuat Sendiri atau Membeli

Sebelum melangkah pada pembuatan ransum ayam kampung ini, perlu untuk di tanya terlebih dahulu "apakah membuat ransum sendiri atau membelinya?" Dalam kaitan dengan ayam ras tidak menjadi persoalan, persoalan yang cukup serius justru terjadi atas ayam kampung ini, sebab tidak banyak yang menjual ransum ayam ini. Kalaupun ada, patut diragukan, sebab ransum yang dikemas untuk ayam kampung ternyata tidak lebih dari ransum ayam ras juga.
Sebenarnya menentukan membuat sendiri atau membeli tergantung pada beberapa pertimbangan yaitu,
  1. Efisiensi biaya produksi. Semakin banyak ransum yang dibuat akan semakin terspesialisasi usaha ke situ dan semakin rendah biaya per kilogramnya. Kini perlu di tinjau, apakah peternak sendiri siap untuk mengusahakan produksi ransum yang besar itu profesional, sehingga mampu meningkatkan efisiensi? Bila tidak, ada baiknya peternak memesan saja dari pabrik ransum yang ada.
  2. Kesanggupan pasar. Bila memang tidak ada dan tidak ada yang mau membuat ransum ayam kampung, maka mau-tidak mau kita harus membuatnya sendiri.
  3. Jumlah ayam kampung yang dipelihara. Bila jumlahnya sedikit, ada baiknya membeli ransum jadi, itupun selama barangnya ada. Bila tidak, kembali lagi ke butir 2. Kebalikannya kembali ke butir 1 di atas itu.
Dalam banyak hal, ransum ayam kampung ini memang harus buat kita sendiri atau dengan "konversi ransum ayam ras" secara selektif.

Sebelum Formula Disusun

Setelah dipastikan untuk menyusun ransum sendiri, langkah baiknya adalah memeriksa bahan makanan yang ada atau yang bakal diadakan. Sebab sekali formula terbentuk, maka selama periode ini bahan makanan yang tercantum dalam formula harus ada, bila tidak kita harus membuat formula baru berdasarkan bahan makanan yang tersedia.
Bahan makanan yang harus diperiksa keberadaannya ini yaitu bahan makanan yang ada di gudang dan yang ada di pasaran, sebab dalam membuat formula ransum prinsip utama  penggunaan bahan makanan adalah menggunakan bahan makanan yang tersedia di daerah tersebut. Kemudian bahan makanan itu harus tersedia harus tersedia dalam waktu yang tetap atau langgeng keberadaannya, jangan kini ada dan kemudian menghilang!
Secara lebih rinci dan ringkas, hal-hal yang perlu dilihat dan diperiksa sebelum formula disusun adalah:
  1. Periksalah keberadaan bahan makanan, terutama bahan makanan sumber energi dan protein asal nabati. Energi sebagai porsi tersebar dari persentase formula ransum harus dilihat hendak dipenuhi dari bahan makanan nabati apa dan bagaimana ketersediaan bahan tersebut. Kemudian sumber protein hendak di ambil dari bahan apa. Semua itu sudah harus diperiksa dan di tentukan; jangan membuat formula dahulu dan bahan makanan dicari kemudian.
  2. Ayam kampung usia berapa dan untuk macam apa yang hendak dibuat formulanya ini, tidak ada satu formula untuk semua jenis dan usia ayam kampung, sebab itu bertalian erat dengan usaha untuk memenuhi kebutuhan nutrisi  ayam kampung tersebut.
  3. Harga bahan makanan itu. Hal ini sudah di bahas pada postingan sebelumnya. Kita harus menduga harga bahan makanan itu pada masa mendatang. Karena harga bahan makanan  itu berfluktuasi, bila bahan makanan itu sudah terlalu mahal maka formula baru harus kita buat dengan cara menyingkirkan bahan makanan yang harganya mahal dari jajaran formula baru yang akan di susun itu.
  4. Lihat catatan evaluasi yang lalu. Bila ada ransum yang tidak disukai akibat penggunaan bahan yang tidak disukai, maka dalam formula yang akan disusun itu jangan mempergunakan bahan makanan itu lagi.
Semua itu harus ditelaah dahulu, sebelum formula ransum disusun.

Metode-metode Penyusunan Ransum

Menyusun ransum pada prinsipnya adalah memenuhi kebutuhan nutrisi ayam kampung dari sekumpulan bahan-bahan makanan terpilih. Jadi "menyamakan" kandungan nutrisi ransum dengan kebutuhan nutrisi ayam kampung tersebut. Dengan dasar ini, dikeal beberapa metode untuk menyusun ransum, yaitu:
  1. Metode Pendugaan Sederhana (M.P.S). Dasar metode ini adalah menentukan dahulu bahan makanan yang akan digunakan kemudian mencoba-coba atau diduga-duga persentase tiap bahan dan kandungan nutrisinya dihitung untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ayam kampung tersebut. Bila hasil perhitungan lebih atau kurang, maka persentase pemakaian tiap bahan tadi ditambah atau dikurangi hingga relatif mendekati kebutuhan nutrisi tersebut. Lalu harga ransum tersebut ditentukan berdasarkan porsi atau bobot tiap bahan dan harga tiap bahan tersebut. Bila ternyata lebih mahal daripada yang dibuat orang lain, maka kita harus melihat bahan mana yang menyebabkan ransum mahal, lalu porsi pemakaian bahan tersebut dikurangi dan porsi tiap bahan ditentukan ulang hingga memenuhi semua persyaratan. Cara ini dilakukan dengan menoba-coba, menambah atau mengurangi pemakaian bahan makanan  yang diduga sebelumnya. Metode ini mempunyai kelebihan : mudah dilakukan oleh semua peternak asal ia dapat hitung menghitung sederhana saja.

Saturday, 22 February 2014

IDE BISNIS RUMAHAN YANG SUKSES

Sebenarnya banyak sekali ide-ide bisnis/usaha rumahan bahkan bisa  buat usaha sampingan yang bikin kita sukses. Tapi kali ini Rumah Peternakan akan mengulas tentang usaha rumahan atau usaha sampingan di bidang peternakan ayam kampung, usaha peternakan ayam kampung sangat menjanjikan dan dalam pengurusan dapat juga dijadikan usaha sampingan/rumahan.
Ayam kampung perlu dipelajari dan diketahui cara-cara pemeliharaannya yang baik dan benar. Dengan pemeliharaan yang baik dan benar, ternak yang dipelihara akan tumbuh optimal sesuai harapan. Ternak pun dapat hidup dan berproduksi dengan baik sesuai dengan perawatan dan pemeliharaan yang diberikan oleh peternak.

Sistem Pemeliharaan Ayam Kampung



di bidang peternakan dikenal tiga sistem pemeliharaan sebagai berikut:

  • Sistem pemeliharaan ekstensif
Pada cara ini tidak ada campur tangan manusia sebagai pemiliknya. Ternak hanya dilepas begitu saja dan akan datang sendiri di malam hari. Pemilik tidak memberikan apa-apa dan mengambil ternaknya ketika ia butuh uang atau bila ada niat hajatan. Ternak memberikan imbalan yang besar kepada pemiliknya, tetapi pemilik tidak sedikit pun memberikan perhatian pada ternaknya. Cara ini banyak ditemukan di negara-negara yang peternakan dan pengetahuan peternakan belum maju. Di Indonesia, cara ini banyak dilakukan oleh peternakan-peternakan rakyat.
Cara ini di sebut sebagai cara tradisional, yaitu ayam dilepas bebas untuk berkeliaran di kebun-kebun sekitar rumah. Ayam kampung yang dilepas bebas biasanya mempunyai tingkat kekebalan yang tinggi dan menghemat biaya makanan. Umumnya ayam cukup diberi makan pagi saat akan dilepas. Makanan tersebut berupa sisa-sisa makanan dan tambahan bekatul secukupnya. Selebihnya, ayam di anggap dapat mencari makan sendiri di sekitar rumah. Kelemahan cara pemeliharaan ini di antaranya ayam lambat untuk berkembang lebih banyak karena tingkat kematian pada anak ayam relatif lebih tinggi, waktu mengasuh terlalu lama yang berarti mengurangi produktivitas, kendala akan keberadaan ayam kurang sehingga persentase kemungkinan di mangsa predator maupun hilang lebih tinggi. Cara pemeliharaan ini mengakibatkan ternak kurang produktif.
  • Sistem Semiintensif
 Sistem ini sudah mulai ada campur tangan pemeliharaan. Pemeliharaan sudah memulai menerapkan pengetahuannya untuk meningkatkan produksi ternak. Akan tetapi, ternak masih dilepas. Hanya saja, ternak tidak sebebas pada sistem pemeliharaan ekstensif.
  • Sistem intensif
Sistem ini sudah mulai ada campur tangan pemeliharaan. Pemeliharaan sudah memulai menerapkan pengetahuannya untuk meningkatkan produksi ternak. Akan tetapi, ternak masih dilepas. Hanya saja, ternak tidak sebebas pada sistem pemeliharaan ekstensif.
Sistem Intensif
Pada sistem ini, campur tangan manusia sepenuhnya sangat berperan dalam kehidupan ternak. Mulai dari ternak kecil hingga apkir serta mulai dari kebutuhan yang paling kecil hingga yang terbesar semuanya melibatkan campur tangan manusia. Ciri-ciri dari cara ini adalah diperlukan modal tambahan dan pengetahuan, tetapi hasil yang diperoleh jauh lebih baik dan memuaskan daripada sistem pemeliharaan ekstensif.
Ayam kampung yang dipelihara secara intensif dapat berproduksi sekitar 112 butir/ tahun atau sekitar 30,9% dan umur dewasa kelamin 148 hari (Direktorat Jendral Peternakan, 2006). Ayam buras dengan produksi telur selama 12 minggu sebesar 43,24% hen-day, jumlah telur 36,32 butir/ekor, bobot telur 30 g/butir dan rata-rata bobot telur sebesar 40 gram/butir (Zainudin et al., 2005).
Ketiga cara pemeliharaan ayam kampung tersebut telah diterapkan Indonesia. Banyak desa yang melakukan cara pertama, tetapi ada pula yang menerapkan cara kedua. Cara ketiga juga ada yang menerapkan. Penerapan cara pertama pada ayam kampung tidak hanya terjadi di negara kita saja. Di afrika, banyak pula yang melakukan cara pemeliharaan pertama dan kedua untuk ayam setengah liar. Desa-desa di inggris, ada pula yang menerapkan cara kedua (semiintensif) untuk ayam setengah liar. Cara pemeliharaan semiintensif memang gencar  diperkenalkan di desa-desa oleh para penyuluh lapang peternakan. Setiap ada kesempatan untuk praktik di desa, para mahasiswa dari fakultas peternakan atau fakultas kedokteran veteriner selalu memperkenalkan cara semiintensif ini. Mereka menyadarkan pemilik ayam kampung agar juga memperhatikan nasib ayam kampungnya. Walaupun itu hanya sekedar memberikan pecahan beras (menir) dan membawa ayamnya ke mantri hewan untuk di vaksin tetelo gratis. Cara-cara pemeliharaan yang lebih baik dan didukung dengan program seleksi yang baik, juga diperkenalkan oleh para penyuluh kepada penduduk desa.
Sebelum diuraikan tentang pemeliharaan yang selayaknya dilakukan untuk ayam kampung, akan dilihat terlebih dahulu tentang pemeliharaan yang ada kini.
Pemeliharaan ayam kampung yang seadanya di desa memang berlatar belakang sosial dan kurangnya pengetahuan masyarakat desa itu sendiri. Siapa pun sulit berkilah, bila kehidupan mereka di desa memang sederhana. Hal ini sudah dapat di duga bahwa perhatiannya terhadap ternak yang di peliharaannya juga kurang. Kecuali, bila mereka sudah menyadari benar bahwa ayam kampung yang dipeliharanya benar-benar mempunyai fungsi sebagai tabungan bagi mereka. Alasan inilah yang sering dijadikan titik tolak perbaikan sistem pemeliharaan ayam kampung bagi para penyuluh di desa-desa. Kadang kala mereka terlalu berlebihan memperhatikan ternak peliharaannya dibandingkan dengan dirinya sendiri.
Ayam kampung dapat tidur di sembarang tempat pada areal rumah pemiliknya seperti di bawah pohon, bertengger di dahan, di dapur, atau di gudang. Pagi hari ayam kampung beranjak dari tempat tidurnya, lalu pergi mencari makan sendiri. Berupa nasi, serangga, rurumputan, batu kecil, dan lain-lain. Sore harinya ayam pulang ke rumah pemilik dan berputar-putar dahulu mencari tempat berteduh. Begitulah terus-menerus hingga ayam itu bertelur atau di jual oleh pemiliknya.cara demikian sangat banyak dilakukan di desa-desa. Perhatian sedikit diberikan ketika ayam kampung itu bertelur atau sewaktu memelihara anaknya. Di sini pemeliharaan yang tak acuh terhadap ayamnya, memberikan tempat untuk ayam kampungnya bertelur. Ketika anak ayam sudah menetas, diberikan menir ala kadarnya. Setelah itu, pemilik kembali acuh tak acuh  dan tidak memperhatikan lagi. Memang orang-orang yang memakai cara pemeliharaan demikian mulai memperhatikan ayam kampung yang  dipeliharanya ketika ayam itu sudah menunjukkan hasil, yaitu di saat bertelur atau menetas. Dengan demikian, si pemilik merasa ada manfaat memelihara ayam kampung. Alasan inilah yang dijadikan dasar kuat untuk menyadarkan pemilik ayam kampung yang tak acuh terhadap ayamnya. Dengan mengajukan manfaat-manfaat secara ekonomis bagi kehidupan pemilik, penyuluh-penyuluh banyak memperoleh kemajuan untuk meningkatkan kesadaran pemilik.
Sedikit berbeda dari cara pertama tadi, pada cara kedua ini sudah ada perhatian pemilik. Pada umumnya mereka yang memakai cara ini sudah menyadari benar manfaat ayamnya sebagai penolong di kala membutuhkan uang. Pada cara ini pemilik setiap pagi membuka kandang ayam. Sementara itu, menir atau dedak (bekatul) ditaburkan di tempat makan. Setelah itu, ayamnya di biarkan berjalan-jalan di sekitar rumah. Siang hari kembali ayam itu diberi makan menir,dedak atau bekatul. Malam hari kandang di tutup dan jumlah ayam yang ada di hitung. Di sini sudah ada usaha untuk membuat kandang sehingga ayam tidak bermalam di sembarang tempat.
Kadang kala, gudang yang tak ter pakai dijadikan kandang. Walaupun belum memenuhi syarat kandang yang baik, tetapi sudah ada perhatian dan usaha menyediakan tempat khusus untuk ayam bermalam. Selain itu, di berika makanan tambahan, walaupun hanya sekedar menir atau dedak.
Cara pemeliharaan semacam ini banyak dilakukan oleh peternak yang tingkat ekonomi dan pengetahuannya relatif agak tinggi, terutama di daerah-daerah pantai utara pulau jawa dan di tapanuli, sumatra utara. Peternak yang memakai cara pemeliharaan ini membawa ayamnya ke mantri hewan untuk di vaksin tetelo. Cara ini juga banyak diterapkan di kota-kota. Ayam kampung yang dipelihara di kota memang tidak di berikan makanan secara khusus seperti halnya ayam yang dipelihara di desa. Ayam kampung tersebut dapat memakan sia-sia, bila dipelihara di perkotaan, tersebut di biarkan untuk mencari makanan di tempat-tempat sampah. Dalam keadaan tertentu, justru orang-orang kota yang memelihara ayam kampung sangat tak acuh terhadap ayamnya.
 
  sukses selalu para Anda yang usaha peternakan...

 
 


 

Saturday, 15 February 2014

CARA MEMULAI BISNIS

Perancangan Tenaga Kerja

Langkah selanjutnya meneruskan dari Cara Memulai Usaha Ternak Ayam Kampung adalah merancang tenaga kerja. Masalah ini menjadi penting karena dalam peraktik sehari-hari ternyata lebih sulit mengatur tenaga kerja dari pada mengatur ayam peliharaan. Lebih-lebih jika prinsip-prinsip manajemen peternakan tidak di terapkan dengan baik. 
Mengenai masalah tenaga kerja, ada dua pegangan yang mendasarinya, yaitu jumlah ayam kampung dan diri Anda sendiri sebagai peternak. Dengan kaitan dengan jumlah ayam, perlu diketahui bahwa peternakan ayam tidak menggunakan sistem padat karya, sekalipun cara manual yang di terapkan. Untuk cara manual, bila jumlah ayam yang di pelihara berkisar 150 ekor ke bawah, ayam dewasa yang produktif cukup di pegang oleh satu orang saja, baik untuk produksi maupun untuk kegiatan kandang. Dengan memakai cara kerja rotasi, satu orang cukup untuk menangani anak ayam dan ayam remaja. Bila jumlah ayam kampung yang Anda pelihara berupa 40 ekor anak ayam, 60 ekor ayam remaja, dan 90 ekor dewasa produktif, satu peria dewasa sudah cukup untuk tugas produksi. Hal ini karena kesibukan di peternakan bersifat temporer atau da sibuk di kala memberi pakan dan mengumpulkan telur. Selebihnya  hanya digunakan untuk membersihkan kandang dan lingkungan kandang mengawasi kesehatan, dan lain-lain. Sementara itu, untuk tugas penjualan, administrasi umum, dan persiapan bahan baku kandang, dilakukan oleh Anda sendiri. Jadi, dua orang pekerja meliputi Anda  dan satu tenaga kerja sudah cukup untuk menangani ayam dengan jumlah tersebut. Hal yang penting adalah bagaimana kelak Anda dapat mengatur waktu kerja  dan merancang tata kerja, bukan pada jumlah personalnya. Jumlah yang demikian itu mungkin kurang bila Anda merancang tata kerja yang mandiri hingga tingkat  penjualan. Di sinilah diperlukan tata kerja sesuai situasi dan kondisinya. Beberapa prinsip dasar akan di jelaskan sebagai berikut.
pertama, yang perlu dilihat adalah diri Anda sebagai peternak atau hanya sebagai pemilik saja. Hal ini kembali lagi pada tujuan beternak semula. Bila yang di kehendaki adalah sebagai peternak atau ingin terjun langsung mengelola peternakan, untuk itu, tingkatkan keterampilan dan pengetahuan diri yang masih kurang. Hal itu dapat dilakukan setelah niat beternak mulai tertanam. Akan tetapi,  bila hanya ingin sebagai pemilik, harus mempersiapkan orang yang dapat diterima sebagai wakil Anda dalam mengelola peternakan itu. Artinya ada orang lain yang akan di ambil atau kelak digaji untuk mengelola peternakan. Hal itu akan efisien bila jumlah ayam kampung dan aktivitas usaha Anda  luas dan besar. Bila usaha peternakan kecil dan hanya aktivitas produksi saja, sebaiknya Anda sendiri yang mengelola semua itu berpulang pada tujuan Anda beternak. Oleh karena itu, penentuan tujuan penting sekali dilakukan. Bila tujuan itu adalah komersial atau "asap dapur" dan Anda tergantung pada peternakan mungkin awalnya dimulai dari kecil dahulu. Awal yang kecil bila dikelola secara propesional dengan penerapan prinsip-prinsip bisnis dan manajemen, kelak akan menjadi besar.
Kedua, yang perlu dipertimbangkan adalah peran dan aktivitas peternakan, hanya produksi saja atau aktivitas  secara lengkap. Lengkap yang dimaksud  adalah dimulai dari membuat rensum, produksi kandang, dan pascaproduksi dilakukan sendiri. Dengan kata lain, jumlah tenaga kerja tergantung pada besar atau kecilnya aktivitas. Meskipun jumlah ayam kampung yang dipelihara ribuan, tetapi bila hanya aktivitas  produksi kandang saja, tidak banyak tenaga kerja yang terlibat. Jika ransum yang di gunakan ransum beli jadi serta pemberian ransum dan minum juga otomatis, yang dilakukan pekerja hanya membersihkan areal kandang sebagai tugas rutin dan mengawasi kesehatan, serta mengumpulkan telur. Untuk pekerjaan seperti itu, satu peria dewasa mampu memegang 6.000 ekor ayam kampung dewasa produktif. Jumlah ayam bukan sebagai ukuran untuk menentukan tenaga kerja yang akan digunakan. Jadi, sebelum peternakan di buka, sudah ditentukan aktivitas peternakan dan cara aktivitas itu diorganisir.
Setelah dua hal itu dipertimbangkan, langkah selanjutnya adalah mengetahui dahulu jenis tenaga kerja yang bisa digunakan oleh banyak peternak di Indonesia. Pertama, tenaga kerja tetap atau karyawan tetap yang sehari-hari mengelola peternakan, ada atau tidak ada yang di kandang. Karyawan tetap ini termasuk diri Anda sendiri atau anggota keluarga yang selalu membantu peternakan atau mengelolanya sehari-hari. Gaji mereka kelak kita masukan ke dalam biaya tetap peternakan. Berhati-hatilah dalam mengangkat tenaga tetapi ini karena ini ada atau tidak ada produksi, gaji harus tetap di bayar. Umumnya, mereka ini adalah tenaga pengelola inti untuk wakil Anda bila Anda hanya bertindak sebagai pemilik dan jumlah ayam yang dipelihara tidak banyak. Selain itu, ada tenaga kerja tidak tetap yang biasanya dikenal dengan buruh harian. Upah mereka di hitung hari per hari. Tidak masuk sehari, upahnya akan di potong. Mereka dibayar dalam hitungan hari walaupun upahnya kelak dibayar tiap akhir pekan.
Untuk yang terakhir ini, dibagilagi dengan tenaga borongan atau kerja kontrak kerja. Umumnya, buruh harian digunakan untuk pekerjaan kasar yang bersifat temporer.
Karena umumnya peternakan mempunyai sifat fluktuatif dalam produksi dan pemasaran, sistem buruh harian inilah yang ternyata lebih mendominasi jumlah tenaga kerja di suatu peternakan ayam. Bila suatu saat pasaran lesu dan aktivitas dikurangi, dengan mudah mereka diberhentikan karena memang perjanjiannya sebagai buruh harian.

Saturday, 8 February 2014

PANDUAN PEMBUATAN KANDANG AYAM YANG BAIK

Pada kesempatan ini Rumah Peternakan akan menjelaskan tentang pemilihan sistem kandang ayam yang baik melanjutkan dari sebelumnya tentang cara memulai usaha ternak ayam kampung.

Sistem Kandang Alas Litter Seumur Hidup

Sistem kandang dapat berupa kandang besar seperti kandang ayam broiler, kandang susun, atau kandang panggung. Kandang merupakan tempat ayam berada selama seumur hidup, mulai dari anak ayam hingga masa bertelur. Semakin bertambah usia ayam, kepadatan kandang semakin diperluas sesuai pertumbuhannya. Kandang sistem ini tidak mempergunakan kandang khusus anak ayam. Kandang dibangun, dibersihkan, lalu dipersiapkan peralatannya. Masa awal sudah dapat dimulai dengan masuknya anak ayam. sistem ini umumnya digunakan untuk beternak secara intensif yang dilakukan pada peternakan ayam broiler. Variasi dari sistem kandang ini adalah sistem kandang berhalaman. Dengan menggunakan sistem kandang ini, harus di siapkan halaman di tiap kelompok, bukan di tiap kandang. Setiap kelompok yang terdiri dari dua kandang, cukup disediakan  satu halaman di bagian depan muka tiap kandang yang menyatu.
Sistem halaman seperti ini umumnya untuk ayam kampung hias dan kegemaran, seperti ayam pelung, ayam bangkok, dan ayam bekisar, atau ayam kampung super. Kandang dengan sendirinya berfungsi untuk tempat beristirahat dan bertelur apabila tiba saatnya. Sistem halaman ini emang efektif ketika ayam memasuki usia dewasa atau sekitar 2,5 bulan. Kelebihan menggunakan sistem kandang litter  seumur hidup adalah memberikan keleluasaan ayam beraktivitas, khususnya pada kandang berhalaman. Sistem pemeliharaan seperti ini juga lebih tepat diterapkan dengan ayam kampung komersial, khususnya ayam kampung pedaging. Akan tetapi, kelemahan dari sistem kandang ini adalah membutuhkan areal yang luas, terlebih lagi pada sistem kandang berhalaman.

Sistem kandang kotak cage

Kandang kotak cage dapat dibuat dari kawat atau bambu. Apabila menggunakan sistem kandang ini, harus disiapkan pula kandang anak ayam terlebih dahulu. Ayam-ayam tersebut di masukan ke dalam kotak-kotak cage setelah lepas masa remaja. Kandang yang di bangun hanya untuk melindungi kotak-kotak cage tersebut. Fungsi kandang ini hampir sama dengan kandang ayam ras petelur. Pembangunan kandang  tidak begitu penting, yang terpenting adalah menyiapkan pemeliharaan anak ayam dan ayam remaja. Kandang dapat di buat sederhana dengan tiang dari balok dan atap dari genting. dindingnya dapat menggunakan kawat atau bilah babu agar binatang-binatang penyebar penyakit seperti burung gereja, tikus, dan siput tidak dapat masuk.
Keuntungan menggunakan sistem kandang kotak cage adalah dapat menghemat luas areal tanah. Sistem kandang kotak cage dapat menampung ayam peliharaan dengan jumlah lebih banyak dibandingkan dengan sistem kandang litter dengan luas area yang sama. Namun, biaya investasi yang dikeluarkan lebih besar karena harus membuat kandang anak ayam, kotak-kotak cage, dan kandang pelindung kandang cage.
Dengan mengetahui kelebihan dan kekurangan masing-masing sistem kandang, akan memudahkan menentukan sistem kandang yang paling tepat. Penentuan sistem itu kelak akan menentukan peralatan dan modal kerja yang harus di persiapkan. Salah satunya dapat dipilih untuk dipergunakan, sesuai situasi dan kondisi di peternakan atau lokasi peternakan itu akan di buka. Perlu di ketahui bahwa kandang tingkat dapat juga beralasan litter dan dapat di buat hingga tiga tingkat. Per unit dengan tiga tingkat dapat menjadi satu kelompok. Cara seperti itu dapat dipergunakan untuk peternakan ayam sekala kecil sampai menegah di pinggiran kota dan pedesaan dengan areal tanah terbatas. Umumnya mereka mengombinasikannya dengan sistem halaman.
Selanjutnya, yang perlu di rancang sebelum kandang di bangun adalah bahan bangunan pembuat kandang. Ada dua pertimbangan untuk itu, yaitu dibuat dengan biaya murah yang tahan lama, kecuali bila di seratkan bahan-bahan kimia pembantu. Jadi, pilihan sesuai dengan tujuan beternak. Bahan yang baik memang lebih mahal, tetapi tahan lama dan nlai baliknya menjadi lebih bermanfaat karena kandang dapat dipergunakan berkali-kali. Usaha peternakan ayam kampung yang masa produksinya dapat mencapai 1,5 tahun, belum mencapai titik impas bila hanya dua atau tiga kali masa produksi, apalagi dalam situasi pasaran lesu dan jumlah yang dipelihara kecil pula.
Bahan bangunan yang murah memang menyebabkan kandang yang di idamkan cepat terwujud. Akan tetapi, perlu di ingat bahwa kandang sederhana tidak identik dengan murahan. Hal yang penting adalah memilih bahan dan membangun kandang sesuai tujuan beternak ayam kampung.

Saturday, 1 February 2014

CARA MEMULAI USAHA TERNAK AYAM KAMPUNG

 Persiapan Beternak

Beternak merupakan suatu kegiatan memelihara hewan ternak untuk dibudidayakan sehingga mendapatkan keuntungan dari kegiatan tersebut. Beternak dapat mempunyai arti dengan membuka usaha, yaitu menanamkan sejumlah uang disertai pengorbanan lain yang dikeluarkan selain uang tersebut. Olehh karena itu, diperlukan suatu persiapan yang tepat sebelum beternak agar usaha ini tidak kandas di tengah jalan.

Tujuan Beternak Ayam Kampung

Beternak ayam kampung merupakan suatu bentuk aktivitas pengelolaan untuk memperoleh manfaat dari ayam kampung sebagai sasarannya. Usaha peternakan merupakan suatu tindakan beternak dengan menerapkan prinsip-prinsip usaha. Dalam setiap usaha, begitu pun usaha peternakan ayam kampung, diperlukan suatu penetapan tujuan terlebih dahulu.
Suatu usaha agribisnis seperti peternakan  harus mempunyai tujuan. Tujuan ini berguna sebagai evaluasi kegiatan yang dilakukan selama beternak, baik itu salah atau benar. Contoh tujuan peternakan adalah tujuan komersial, yaitu sebagai cara memperoleh keuntungan. Bila tujuan ini yang di tetapkan, segala prinsip ekonomi perusahaan baik ekonomi mikro dan makro, konsep akuntansi, dan manajemen harus diterapkan. Namun, apabila peternakan dibuka untuk tujuan pemanfaatan sumber daya, misalnya tanah atau untuk mengisi waktu luang, tujuan utama bukanlah merupakan aspek komersial, tetapi harus tetap mengharapkan modal yang ditanamkan dapat kembali.
Dalam beternak ayam kampung, perlu dipersiapkan beberapa hal, di antaranya adalah penetapan tujuan beternak, seperti beternak sebagai penghasil daging atau penghasil telur. Penentuan tujuan ini penting karena akan menentukan cara memelihara dan manajemennya, termasuk dalam pemilihan induk. Selain menetukan tujuan komoditas yang akan diproduksi, penentuan maksud beternak juga penting, yaitu beternak hanya sekedar mengisi waktu luang, memanfaatkan tanah yang kosong, atau beternak sebagai sumber penghasilan keluarga.

Untuk Mengisi Waktu Luang

Beternak ayam kampung dengan tujuan untuk mengisi waktu luang banyak dilakukan oleh para pensiunan. Kepuasan dengan melakukan kesibukan di bidang peternakan merupakan manfaat yang dapat diperoleh. Bila beternak hanya untuk mengisi waktu luang maka kepuasan yang dicapai adalah kepuasan mengisi waktu dengan kesibukan sehari-hari mengurus ternak. Kepuasan ini juga merupakan nilai ekonomi yang tidak dapat di ukur secara kuantitatif atau dengan angka. Apabila waktu luang sudah tidak ada lagi akibat sibuk dengan urusan ayam kampung maka saat itulah dikatakan bahwa kegiatan beternak sudah memberikan hasil yang maksimum. Ini setara atau lebih besar dari nilai yang telah dikeluarkan. Selain kepuasan tersebut, beternak juga menambah hasil berupa telur atau anak ayam atau daging walaupun bukan target utama dari beternak tersebut.

Untuk Memanfaatkan Tanah Yang Kosong

Tujuan ini pun banyak dilakukan orang. Umumnya, orang memanfaatkan tanah kosongnya sehingga pajak bumi dan bangunannya dapat di bayar dari hasil beternak. Aktivitas beternak tersebut juga dapat menghindari penyerobotan tanah.

Untuk Mendapatkan Keuntungan (Mencari Nafkah)

Bila tujuan ini sudah ditetapkan, usaha peternakan ayam kampung yang dijalankan akan menerapkan kaidah-kidah usaha. Keuntungan berupa ekonomi merupakan target utama yang harus dihasilkan. Kepuasan peternak akan ditentukan dengan banyaknya nilai ekonomi yang dihasilkan dari peternakan yang dijalankan. Beternak ayam kampung untuk mendapatkan keuntungan harus jelas dalam menjalankannya sebab ada kaitannya degan pengelolaan keuangan.

Penentuan Lokasi

Langkah selanjutnya setelah niat untuk beternak ditentukan adalah menentukan lokasi. Penentuan lokasi penting dilakukan karena usaha peternakan memerlukan suatu areal khusus karena sifat dan kondisi fisiologis yang menentukan demikian.
Besar atau kecilnya usaha peternakan ayam kampung tetap membutuhkan suatu lokasi agar benar-benar membawa manfaat buat peternak. Bila memelihara satu atau dua ekor memang tidak menjadi masalah, tetapi bila sudah puluhan atau ratusan ekor tentu harus dipikirkan suatu lokasi yang tepat. Ada beberapa hal yang menjadi bahan pertimbangan sebelum memilih lokasi peternakan ayam.
Ayam kampung seperti unggas pada umumnya, apabila dipelihara dalam jumlah besar, menimbulkan gangguan pada lingkungan sekitarnya. Gangguan tersebut dapat berupa suara ayam, kotoran ayam, pakan, serta lalulintas pengangkutan produksi dan sarana produksi. Lingkungan juga dapat berdampak buruk bagi ayam itu sendiri. Misalnya, berperan dalam perpindahan penyakit yang dapat memusnahkan seluruh ayam yang ada. Faktor kedua inilah yang menyebabkan lokasi peternakan tidak boleh terlalu dekat dengan keramaian masyarakat. Selain itu, masyarakat yang berada di sekitar dapat pula menyebabkan gangguan keamanan peternak.
Syarat-syarat lokasi yang dipilih dalam beternak ayam kampung adalah sebagai berikut.
  1. Lokasi peternakan tidak jauh dari daerah pemasaran hasil dan atau tidak jauh dari tempat pengadaan faktor produksi. Apabila keduanya tidak dapat di peroleh secara bersamaan maka yang diutamakan adalah dekat dengan lokasi pengadaan faktor produksi. Apabila jauh dengan pemasaran, ada kemungkinan pembeli mengambil sendiri ke lokasi peternakan atau pengumpul yang akan datang ke peternakan.
  2. Lokasi peternakan hendaknya jauh dari keramaian, tetapi ada jalur transportasi dan komunikasi. Lokasi yag memenuhi persyaratan ini yait daerah di pinggiran kota atau di desa-desa. Keramaian akan mengganggu ternak dan sebaliknya. Sementara itu, jalur transportasi berguna untuk memudahkan pemasaran hasil dan penyediaan faktor produksi.
  3. Lokasi peternakan hendaknya memperhatikan tata guna tanah dari pemerintah daerah setempat, terutama untuk peternakan yang akan berlangsung lama. Penentuan tata lokasi ini diperlukan karena suatu kawasan akan terus berkembang sesuai dengan peruntukannya. Lokasi peternakan yang dipilih, peruntukan ke depannya bukan sebagai pusat perkantoran atau permukiman penduduk. Namun, apabila peternak hanya sekedar untuk memanfaatkan tanah kosong sambil menunggu harga tanah naik, hal tersebut tidak perlu terlalu diperhatikan.
  4. Lokasi peternakan hendaknya mempunyai fasilitas fisik yang memadai, di antaranya cukup air, tidak di bawah lembah atau bukit, dan mempunyai masa depan sebagai lokasi agribisnis yang baik.
Penentuan lokasi tersebut sangat diperlukan apabila usaha peternakan benar-benar akan dijadikan bisnis yang diharapkan dapat terus berkembang. Apabila terdapat banyak alternatif pilihan lokasi, peternak perlu memilih salah satu yang sesuai serta perlu diperhitungkan pula biaya oportunitasnya (oportunity cost). Apabila semua faktor sama-sama dapat mendukung tujuan,dipilih lokasi dengan biaya oportunitas terendah.
Tata letak perkandangan suatu peternakan ayam mempunyai pengaruh terhadap jarak tempuh pekerja kandang dalam bekerja, jarak tempuh yang terlalu panjang akan mengakibatkan turunnya produktivitas pekerja kandang dan meningkatkan pengeluaran biaya tenaga kerja. Semakin pendek jarak tempuh yang di lalui pekerja kandang dalam bekerja, semakin efisien tata letak perkandangan tersebut (Mc Adle, 1992).
Setelah lokasi telah ditentukan, langkah berikutnya adalah merancang kondisi fisik peternakan. Untuk keperluan fisik kandang yang terpenting adalah kandang dan perkandangan. kandang dan perkandangan tersebut harus direncanakan dengan matang agar tidak menimbulkan gangguan terhadap lingkungan. Dalam membangun kandang dibutuhkan perencanaan produksi. Oleh karena itu, dalam proses perencanaan perlu melihat masalah produksi dan sistem produksi dalam perencanaan lebih dulu.

Sistem Produksi Berkesinambungan

Sistem beternak yang baik dalam suatu peternakan komersial ilah dengan melaksanakan sistem produksi yang berkesinambungan. Sistem produksi berkesinambungan berarti produksi ayam kampung, baik telur maupun ayam hidup tidak terputus. Oleh karena itu, diperlukan beberapa angkatan produksi. Tiap angkatan tersebut sudah dirancng, baik waktu dan jumlah ayamnya agar sesuai dengan pangsa pasar yang tepat. Pembangunan kandang, perkandangan, jumlah ayam yang ada di dalamnya, dan waktu pemeliharaan perlu disesuaikan dengan saat pemasaran yang telah diterima oleh pasar atau yang telah disepakati antara peternak dengan pembeli.
 Sistem produksi tersebut mempunyai dua aspek, yaitu aspek makro dan aspek mikro. Sistem produksi makro berkaitan dengan kandang dan perkandangan. Hal tersebut meliputi cara memelihara yang dibagi atas sistem kandang terkurung seumur hidup, sistem kandang berhalaman, dan sistem kandang swalayan. Selanjutnya, hal yang bertalian dengan kelanggengan produksi dan perkandangan adalah produksi berkesinambungan dan sistem terputus.
Sistem produksi kesinambungan merupakan suatu cara beternak yang menjamin pasokan telur dan ayam hidup secara tetap tanpa terputus. Hal ini sesuai dengan sifat produksi ayam kampung. Hal yang perlu diperhatikan adalah usia pertama pertamakali bertelur, kemampuan produksi total, dan lama istirahat bertelur. Usia apkir menentukan ayam kampung yang sudah dapat dijual. Usia pertamakali bertelur akan menenukan angkatan produksi dan jumlah kandang per angkatan. kemampuan produksi dan lama masa istirahat akan menentukan jumlah ayam yang akan dipelihara. Ciri khas satu klompok kandang adalah semuanya berusia sama. Apabila kondisi permukaan tanah memungkinkan, dalam satu angkatan dapat dimasukan kedalam satu kandang. Akan tetapi, apabila kondisi permukaan tanah tidak memungkinkan, satu kelompok kandang dapat terdiri lebih dari satu kandang, dapat dengan sistem alas liter atau alas kotak cage.
Banyaknya klompok kandang atau angkatan produksi dapat ditentukan dengan melihat usia pertama kali bertelur. Rata-rata ayam kampung bertelur untuk pertama kalinya pada umur 5 bulan. Untuk memperoleh produksi berkesinambungan, harus di buat lima kelompok kandang. Apabila cara ini diterapkan dengan baik dan sesuai, akan diperoleh produksi terus-menerus tanpa ada angkatan yang kosong. Tiap saat ada angkatan yang menghasilkan telur dan adapula yang dijual. Cara seperti ini dapat pula diterapkan dalam peternakan kecil dengan kandang susun per kelompok. banyaknya ayam yang harus dipelihara per angkatan dapat diketahui dari banyaknya daya serap pasar.
Sebelum mulai beternak, peternak harus melakukan riset pasar terlebih dahulu. Jangan sampai terjadi telur dan ayam sudah ada, tetapi belum ada pembeli. Sebelum memulai suatu usaha, harus diketahui besarnya pangsa pasar telur ayam kampung dan ayam kampung hidup yang mungkin dapat dikuasai. Hasil survai tersebut digunakan untuk merancang produksi telur, jumlah ayam yang akan di pelihara, dan kebutuhan luas kandang yang harus disiapkan.
Langkah-langkah oprasional untuk mengetahui pangsa pasar, yaitu melalui riset pasar sederhana yang melipui hal sebagai berikut.
  1. Memperoleh kemampuan beli dari pengecer (dapat berupa pedagang ayam kampung eeran di pasar, restoran masakan padang. atau restoran ayam goreng tradisional yang potensial)
  2. Memperoleh kemampuan beli dari pedagang pengumpul yang rajin berkeliling dari satu peternakan ke peternakan lain.
  3. Memperoleh informasi langsung dari pasar-pasar yang dilakukan oleh peternak sekala menengah dan besar.
Sebagai contoh, suatu peternakan ayam kampung memperoleh permintaan telur ayam kampung sebanyak 450 butir per minggu. Setelah diketahui jumlah permintaan pasar, selanjunya mulai di rancang langkah-langkah yang perlu dilakukan, yaitu sebagai berikut.
  1. Memperhatikan kemampuan bertelur ayam kampung. Ayam kampung dalam pemeliharaan yang baik mampu bertelur 100 butir/tahun, sedangkan dalam keadaan yang kondisional sekitar 75 butir/tahun. Angka produksi telur tersebut dapat digunakan sebagai dasar perhitungan awal.
  2. Produksi per tahun tersebut kemudian dijadikan produksi telur per minggu. Hasil perhitungan tersebut kemudian menjadi produksi telur per minggu per ekor.
  3. Jumlah permintaan pasar atau bagian yang mampu dijual dibagi dengan produksi telur per minggu per ekor. Hasil yang di peroleh sama dengan jumlah ayam yang harus dipelihara per kelompok. Jumlah tersebut tidak seluruhnya mampu memenuhi permintaan pasar. Oleh karena itu, dibentuk lima kelompok yang sama dan berkesinambungan dengan selisih satu bulan antarkelompok. Dengan demikian, diharapkan tiap bulan terdapat telur ayam kampung yang dapat di jual ke pasar sesuai dengan permintaan.
Setelah itu, dapat juga dirancang jumlah ayam potong setelah masa bertelur menyusut.

Perancangan Kandang

Luas kandang yang dibutuhkan apabila pembuatan kandang memakai sistem lantai litter atau sistem halaman adalah dengan cara membagi jumlah ayam yang dipelihara dengan jumlah ayam per meter  persegi. Namun, apabila memakai sistem kandang kotak (cage) maka luas kandang yang di butuhkan diperoleh dengan cara membagi jumlah ayam yang dipelihara dengan jumlah ayam per kotak. Luas kandang dapat juga diperoleh dengan mengaitkan angka jumlah ayam dengan angka kepadatan kandang. Setelah luas kandang diperoleh, panjang kandang yang di butuhkan dapat di tentukan. Lebar kandang sudah tetap, yaitu 4 pada sistem kandang terkurung, sedangkan untuk sistem lantai cage, lebar kandang perlindunganya maksimal 6 m. luas kandang di tentukan sebagai berikut
lebar x panjang = luas kandang
4 x panjang = luas kandang
panjang = luas kandang/4
Pembangunan kandang berdasarkan ukuran tersebut disesuaikan juga dengan permukaan tanah yang tersedia.Sebagai contoh, tanah yang tersedia sepanjang 20 m. Panjang tanah tersebut kemudian di bagi menjadi dua sehingga diperoleh dua kandang per kelompok dengan panjang kandangnya masing-masing 10 m. Banyaknya kelompok minimal 5 kelompok. Banyaknya kelompok di tentukan oleh pangsa pasar serta ketersediaan tanah. Jarak antarkelompok minimal 6 m. karena adanya perbedaan kelompok usia dengan penempatan tertua di kelompok pertama dan termuda di kelompok terakhir.
Peternakan ayam kampung sekala kecil biasanya mempergunakan kandang susun atau kandang panggung. Lebar kandang maksimal 2,5 m. Antara tingkat yang satu dengan tingkat yang lain di buat celah sekitar 25 cm untuk penampung tinja atau untuk ventilasi kandang alas litter. Cara menghitung kotak untuk kandang beralaskan cage, yaitu dengan melihat kapasitas tampung kotak cage tersebut. Kotak dengan ukuran 30 cm x 40 cm x 55 cm dapat menampung tiga ekor ayam kampung dewasa. Banyaknya kotak cage yang harus di siapkan diperoleh dengan cara jumlah ayam yang dipelihara dibagi tiga.
Setelah perancangan disusun matang, selanjutnya persiapan pembuatan kandang dan perlengkapan. Beberapa pedoman yang perlu di perhatikan dalam pembuatan kandang adalah sebagai berikut
  • Bahan baku yang di gunakan
 Bahan baku yang digunakan dipilih dengan kualitas yang baik. Bahan-bahan dilapisi dengan bahan anti lapuk atau anti rayap agar lebih awet. Bahan untuk tiang kandang cukup bambu, balok dan sejenisnya, tidak perlu memakai beton atau tiang besi. Dinding tiang kandang cukup dari kawat. Atap cukup dari genting biasa yang murah serta cukup kuat.
  • Penempatan kandang
Kandang ditempatkan membujur dari utara ke selatan sehingga sisi kanan dan kiri kandang mengarah ke matahari terbit dan terbenam sehingga sinar matahari pagi dan sore bisa masuk ke dalam kandang. Selain itu, hembusan angin juga dengan bebas dapat masuk ke dalamnya sehingga kelembapan kandang yang sering menjadi masalah di daerah tropis seperti Indonesia dapat diatasi. Indonesia sebagai negara yang berada di khatulistiwa dengan ciri udara panas, tapi lembap. Kelembapan dapat mencapai 90% bahkan lebih di musim hujan. Kandang tersebut yang menyebabkan ayam kampung sering terserang snot atau pilek ayam, berak darah atau berak kapur. Kelembapan semakin bertambah tinggi apabila sinar matahari tidak masuk ke dalam kandang. Hal tersebut dapat menyebabkan berbagai kutu atau parasit lainnya berkembang biak di kandang.Oleh karena itu, sinar matahari pagi dan sore hari harus masuk ke dalam kandang. Bagian memanjang kandang baiknya menghadap ke sinar matahari pagi dan sore hari agar masalah kelembapan kandang terutama di musim hujan dapat teratasi. Arah dan susun kelompok kandang dengan sisi melebar di tempatkan saling berhadapan dan dihubungkan dengan jalan. Apabila ada lima kelompok, empat kelompok bisa saling berhadapan dan satu lagi tepat di ujung jalan penghubung. prinsip tersebut lebih dikenal  dengan prinsip sirip daun dengan harapan memudahkan kerja dan pengawasan seluruh kelompok dengan sekali pandang  dan kemudahan pekerja dalam memasok segala kebutuhan. Dengan demikian, pekerja tidak terlalu lelah dan memungkinkan pencegahan penyebaran penyakit.
  • Lingkungan peternakan
Peternakan ayam kampung khususnya dengan kandang berupa kotak-kotak cage sering menimbulkan bau. Bau tersebut dapat di sebabkan oleh rancangan kandang serta perawatan kebersihan yang tidak di jalankan dengan baik. Bau kotoran yang menusuk tersebut lebih sering terjadi pada pemeliharaan ayam kampung dewasa dengan sistem lantai cage, baik itu yang terbuat dari bambu atau kawat. Kotoran tersebut tertampung di baki kotoran  dan semakin lama semakin banyak. Kotoran tersebut menimbulkan bau serta mengundang lalat masuk ke kandang. Bau kotoran ayam kampung yang dipelihara di atas lantai cage dapat di atasi dengan dua cara. pertama, Membersihkan kotoran minimal sebulan sekali. Kotoran di kumpulkan kemudian di manfaatkan sebagai pupuk organik, atau biogas. Kedua, menaburi kotoran dengan kapur dan tumpukan arang batok di atasnya setiap dua minggu sekali. Kotoran merupakan sumber pendapatan. Selain dapat di jual sebagai pupuk organik, kotoran tersebut dapat di gunakan sebagai biogas. Kandang sebagai alas litter, alas litternya dapat di gunakan sebagai pupuk kandang setelah ayam di apkir. Hal penting selain masalah di atas adalah kebutuhan modal. Bentuk sistem kerja di peternakan  berdasarkan asal modal, di antaranya sebagai berikut
  • Sistem pinjaman dari bank
 Usaha peternakan ayam kampung termasuk usaha yang membutuhkan waktu untuk memperoleh hasil. Hal tersebut karena ayam kampung baru bertelur atau berproduksi rata-rata pada usia lima bulan. Titik impas baru dapat terlihat dalam enam kali masa produksi dengan catatan semuanya lancar. Beberapa hal yang harus di pertimbangkan adalah masa pengambilan, masa tenggangnya, masa cicilan bunga, dan utangnya.
  • Sistem kerja sama
Sistem kerja sama, peternak yang memiliki pengetahuan dan keterampilan beternak ayam kampung tetapi tidak mempunyai uang untuk membangun kandang dan modal kerja lainnya. Kemitraan juga sesuai diterapkan dalam sistem ini. Namun, hal ini lebih baik dijelaskan dahulu wujud kerja samanya. Sistem kerja samanya dapat berupa sistem saham, sistem bagi hasil, atau sistem yang lain yang sesuai kesepakatan bersama. Sistem kemitraan ini memungkinkan penyelesaian semua masalah yang terjadi untuk di tanggung bersama.
  • Sistem kontrak kerja
 Sistem ini sama dengan sistem meminjam dari bank, yang berbeda adalah wujudnya, yaitu berupa materi atau sumber daya. Pemanfaatan modal sendiri secara bertahap dapat dilakukan apabila peternak membangun peternakan kecil secara bertahap serta tergantung pada ketersediaan modal. Pembangunan peternakan dilakukan per kelompok, tidak langsing dalam satu waktu. Sebagai contoh, kelompok 1 dibangun, dibersihkan, dipasang pagar, dan di isi dengan ayam dahulu. Setelah ada uang, kelompok 2 dibangun dan seterusnya. pengembangan dapat dilakukan dengan membuka cabang peternakan baru. Hal yang perlu diperhatikan adalah perencanaan, sedangkan pelaksanaan dapat dilakukan secara bertahap sesuai dengan kemampuan.
Kelompok 1 dapat dibangun setelah permasalahan modal jelas dan peternakan telah dipersiapkan. Setiap kelompok dapat terdiri dari satu atau lebih kandang. Satu kelompok dapat lebih dari satu kandang bertingkat, tergantung pada rencana isi ayam. Pembangunan kelompok dimulai dari bagian terujung terlebih dahulu apabila ara bertahap yang dipilih untuk digunakan. Kelompok yang paling barat dibangun paling terakhir apabila bagian muka peternakan berada di sebuah timur. Hal tersebut dimaksudkan agar kelak kelompok yang sudah ada ayamnya tidak terganggu oleh pembangunan kelompok berikutnya. Namun demikian, ada satu kelemahan dalam pembangunan kandang secara bertahap ini, yaitu bangunan serta pekerja kandang dapat menjadi perantara perpindahan penyakit. Sisi kelemahan ini harus dapat di antisipasi terlebih dahulu secara tepat. Cara yang dapat ditempuh dengan memagari wilayah apabila kandang pada kelompok pertama telah usai. Setiap kelompok kandang harus dipagari karena pada setiap kelompok memiliki usia yang berbeda dengan kelompok lainnya. Hanya pada kelompok yang sama dan usia ayam sama pula, kandang dapat terdiri dari dua unit atau dua susun. Pagar tersebut juga berfungsi untuk menghindari perpindahan penyakit dari ayam dewasa yang lebih tahan ke ayam yang lebih muda atau rentan.
Sistem kandang atau pemeliharaan yang hendak dijalani harus diketahui karena bertalian kuat dengan perencanaan dan penggunaan kandang kelompok 1 yang dibangun tersebut.

Saturday, 25 January 2014

PELUANG USAHA TERBARU TERNAK AYAM KAMPUNG

Mengenal ayam kampung

Ayam kampung begitu akrab dengan kehidupan masyarakat di berbagai daerah di Indonesia. Namun, hanya sedikit masyarakat yang mengenal ayam kampung dengan baik. Sebagian besar masyarakat hanya melihat ayam kampung dengan sepintas mata memandang, tetapi tidak banyak mengenal secara mendalam. Hal tersebut menjadi salah satu penyebab pengembangan dan pemeliharaan ayam kampung masih tertinggal dengan ayam ras.

Asal-Usul Ayam Kampung

Sebenarnya, ayam-ayam yang diternakkan (Callus domesticus) kini berasal dari ayam hutan di Asia Tenggara. Akan tetapi, Indonesia yang merupakan bagian dari Asi Tenggara, kini tidak memiliki sau pun bangsa unggas yang dapat diandalkan produktivitasnya. Dengan kemajuan pembangunan saat ini, ketinggalan itu dapat dikejar. Ini dibuktikan dengan semakin gencarnya penelitian-penelitian tentang ayam kampung di berbagai perguruan tinggi dan lembaga penelitian di Indonesia.
Ayam hutan (Callus varius-varius Linnaeus) merupakan nenek moyang ayam kampung yang umum dipelihara. Ayam hutan ini kemungkinan berasal dari pulau jawa. Akan tetapi, saat ini ayam hutan sudah tersebar sampai ke pulau Nusa Tenggara. Sifat ayam hutan akan sedikit ditinjau di sini sebagaimana yang diuraikan oleh Sastrapradja et al. (1977), karena ayam kampung yang ada kini masih menurunkan sifat-sifat asal nenek moyangnya. Oleh karena itu, varietas-varietas asal unggas hutan yang setengah liar ini dikenal dengan ayam kampung (Kingston, 1979).
Pada ayam hutan jantan, kepala dan punggungnya berwarna hitam kehijauan mengkilap. Tiap bulu pada pangkal ekor berwarna kekuningan. Ekornya hitam, panjang, pada ayam betina bulunya berwarna kecoklatan, Ekornya sedikit lebih pendek dibandingkan dengan panjang badannya.
Ayam hutan hidup di hutan terbuka atau di pegunungan pada ketinggian 1.000-1.500 meter dari permukaan laut. Kadang-kadang berkeliaran sampai ke perkebunan atau perladangan dan suka bergerombol. Yang jantan bersifat poligami.
Ayam hutan pandai terbang, tetapi lebih suka hidup dekat tanah untuk mencari makan. Makanannya berupa biji-bijian, serangga, semut, belalang, dan binatang-binatang kecil lainnya.
Masa kawin ayam hutan bervariasi, tergantung pada tempatnya. Di Jawa Timur terjadi antara bulan Maret sampai Juli. Sekali bertelur dihasilkan lima butir telur. Jumlah telur yang sedikit karena ayam hutan kelak harus mengasuh anaknya pada kondisi alam hutan bebas yang buas. Induk ayam akan merasa sulit dan bingung bila harus mengasuh anak terlalu banyak. Oleh karena itu, produktivitasnya disesuaikan dengan kondisi lingkungannya. Telur yang dihasilkan sedikit lebih kecil dari ayam kampung dan berwarna coklat muda kekuningan. Telur di letakan dalam sarang terbuka di atas tanah dan akan menetas setelah dierami selama tiga minggu.
Dari sifat-sifat ayam hutan yang diuraikan tersebut, banyak yang masih dimiliki oleh ayam kampung. Kecuali pada ayam kampung telurnya sedikit lebih besar dan lebih banyak daripada ayam hutan. Setelah menghasilkan dua belas butir telur, ayam kampung akan mengeram. Sementara itu, ayam hutan akan mengeram setelah menghasilkan lima butir telur.
Ayam kampung memiliki bulu yang bervariasi, mulai dari hitam, putih, kekuningan, kecoklaan, merah tua, dan kombinasi dari warna-warna itu. Bulu leher dan sayap ayam kampung jantan berwarna lurik kuning, bulu punggung dan dada berwarna lurik hitam, dan bulu ekor berwarna hitam kehijauan. Ayam kampung betina memiliki bulu leher, punggung, dan sayap berwarna lurik abu-abu, dulu dada berwarna putih, dan bulu ekor berwarna hitam keabuan (Moniharapon, 1997). Beberapa desa di Indonesia Mengaitkan warna ayam tersebut dengan kegiatan religius atau magic. Ayam ini seringkali di gunakan dalam acara menolak bala atau bencana. Warna hitam pada ayam jantan di beberapa tempat, digemari dan digunakan sebagai ayam aduan. Ayam kampung yang siap dan/atau sedang bertelur dengan warna coklat muda dan ujung bulunya sedikit hitam di beberapa tempa di jawa barat,cukup digemari. Konon, ayam jenis ini telurnya banyak dan dapat memelihara anaknya sendiri. Ayam kampung berwarna hitam dan berwarna putih digunakan sebagai salah satu sajian setiap ada acara (perkawinan, khitanan, dan lain-lain). Apabila ayam kampung tersebut diganti dengan ayam negri, acara tersebut menunjukan bahwa ayam kampung telah menjadi bagian hidup di daerah tersebut. Hal tersebut pula yang menunjukan bahwa kedudukan ayam kampung di hati masyarakat sebenarnya kuat. Badan ayam kampung keil, hampir sama dengan badan ayam ras petelur tipe ringan. Ayam kampung petelur maupun pedaging, bedanya tidak dapat dibedakan. Ayam kampung memang tidak dibedakan sebagai penghasil daging atau telur. Hal ini berbeda dengan ayam ras petelur. Ketika berumur empat bulan, badan ayam kampung mirip dengan badan ayam ras petelur tipe medium umur dua setengah bulan. Badan ayam kampung yang benar-benar telah dewasa mirip dengan badan babon yang telah tiga kali mengerami telurnya.
Produktivitas ayam kampung memang rendah, yaitu rata-rata 60 butir/tahun. Produktivitas ayam kampung yang optimum dapat dicapai pada kondisi thermoneutral zone, yaitu suhu lingkungan yang nyaman. Suhu lingkungan yang nyaman bagi ayam buras belum diketahui, tetapi diperkirakan berada pada kisaran suhu 18 derajat Celsius hingga 25 derajat. Ayam buras pada suhu lingkungan yang tinggi (25-31 drajat C) akan menunjukan penurunan produktivitas, yaitu produksi dan berat telur yang rendah, serta pertumbuhan yang lambat (Gunalvan dan Sihombing, 2006). Penurunan produksi telur pada suhu lingkungan tinggi dapat mencapai 25% bila dibandingkan dengan yang dipelihara pada suhu nyaman.
Berat badan ayam buras yang berumur 8 minggu juga berbeda yaitu 257 g/ekor pada suhu tinggi, sedangkan pada lingkungan nyaman dapat mencapai berat 427 g/ekor (Gunalvan dan Sihombing, 2006). Berat badan ayam jantan tua (jago) tidak lebih dari 1,9 kg; sedangkan berat badan betina lebih rendah lagi. Ayam tua seperti ini sudah tidak produktif lagi. Ayam yang sudah tidak produktif ini banyak di jual di pasar. Daging ayam ini biasanya lebih alot/keras dibandingkan dengan daging ayam kampung yang masih muda. Akan tetapi beberapa penduduk tertentu memang sengaja memilih ayam jago tua atau babon tua tersebut untuk dimasak. Hal ini karena untuk masakan tertentu, seperti rendang ayam membutuhkan proses perebusan yang cukup lama sehingga memerlukan ayam dengan daging yang agak keras seperti  ayam kampung tua sehingga daging tidak ancur setelah selesai proses pemasakan. Selain itu, memang ada sekelompok orang yang senang memakan daging ayam jago dan babon tua.
Setandar warna dan produktivitas ayam kampung sulit ditentukan serta tidak dapat dibakukan sebagai suatu pegangan. Ayam kampung dalam satu kelompok misalnya ada yang bertelur dengan rata-rata 60 butir/tahun, tetapi ayam lain dalam kelompok yang sama pada lingkungan dan asalnya sama, rata-rata bertelurnya tidak sama yaitu hanya 45 butir/tahun. Kemampuan ayam kampung tersebut sama dengan bangsa burung liar yang hidup di alam bebas. Misalnya, kemampuan bertelur ayam kampung ini hampir sama dengan kemampuan bertelur burung merpati dan burung kenari pertahunnya. Akan tetapi, kemampuan bertelur ayam kampung mirip dengan burung puyuh, yaitu bertelur terus menerus sebelum mengeram. Burug puyuh akan terus bertelur lagi setelah berhenti sebentar. Sementara itu, ayam kampung sedikit berbeda. Setelah mengahasilkan sekitar dua belas butir, kemudian ayam tersebut akan menunjukan sifat-sifat mengeram. Hal tersebut merupakan ciri produksi bangsa burung atau ayam setengah liar.
Ayam kampung memiliki bulu yang beragam. Warna bulu ayam kampung juga tidak dapat digunakan sebagai patokan yang baku karna warna bulu ini berubah secara terus menerus. Sebagai contoh, induk ayam kampung betina berwarna coklat bintil-bintil hitam dan induk jantannya berwarna kemerahan campur hitam, tetapi anak ayamnya dapat berbulu putih atau campuran pada anak yang lain.

Saturday, 18 January 2014

SEKILAS TENTANG AYAM KAMPUNG

Sebenarnya kurang tepat apabila ayam yang sering kita lihat berkeliaran di kampung dinamakan ayam kampung. Ayam kampung dikenal pula dengan sebutan ayam sayur. Namun, sebutan ini pun juga kurang tepat karena kini orang-orang di desa banyak melepaskan ayam ras jantan hidup berkeliaran.
Para ahli, khususnya di bidang peternakan, agak sulit mendapatkan istilah yang tepat untuk mengganti istilah ayam kampung. Sebutan ayam kampung sudah begitu melekat di hati masyarakat. Mereka tidak peduli, apa pun istilahnya, apabila mereka mau membeli ayam lokal, cukup menyebut nama ayam kampung, penjual ayam di pasar pasti mengetahui maksudnya. Dalam blog ini pun akan digunakan istilah ayam kampung untuk ayam asal negeri kita yang banyak tersebar tersebut. Ketika ayam ras (ayam negeri) baru pertama kali dikenal oleh beberapa penduduk di Indonesia hingga nama ayam ras mulai timbul-tenggelam, nama ayam kampung atau ayam buras (bukan ras) tetap di atas, bahkan beberapa pihak ada yang menolak kehadiran ayam ras dalam menu hariannya.

Perkembangan Ayam Kampung

Tahun 1972 merupakan titik tolak kebangkitan ayam ras hingga kini namanya kian populer, baik ayam ras petelur maupun ayam ras pedaging (broiler). Kepopuleran ayam ras ini sampai di desa-desa dan kampung-kampung melalui program bimas (bimbingan masyarakat) mengenai pemeliharaan ayam ini. Selain itu, perbaikan sarana dan prasarana akibat pesatnya pembangunan menyebabkan suplai kebutuhan peternak, demikian pula peternakan ayam ras semakin mudah diperoleh hingga ke pelosok desa sekali pun. Kekhawatiran akan tenggelamnya nama ayam kampung semakin merebak. Namun, ayam kampung tetap mempunyai posisi tersendiri di hati masyarakat. Seiring dengan hal tersebut, beberapa perguruan tinggi peternakan dan lembaga-lembaga penelitian peternakan gencar melakukan penelitian  mengenai pengembangan ayam kampung. Penyuluhan-penyuluhan terhadap ayam kampung demi meningkatkan produktivitasnya juga semakin gencar dilakukan. Ayam kampung nyatanya tidak terdesak oleh kehadiran ayam ras. Hal tersebut merupakan satu hal yang membanggakan. Kita tidak melupakan ayam yang telah berjasa puluhan tahun menyajikan menu bergizi tinggi untuk keluarga.
Ayam kampung banyak terdapat di pulau yang juga padat populasi manusianya. Bila dikaji, 94% ayam kampung berada di pedesaan dan sisanya berada di perkotaan. Berbeda dengan ayam ras, 81% populasinya berada di kota-kota dan sekitar kota, sisanya berada di desa-desa dalam bentuk pekat bimas ayam.
Populasi ayam kampung tersebar berada di pulau jawa, yaitu jawa tengah yang mencapai angka 35 juta ekor ayam kampung. Populasi ayam kampung dari sebagian besar (57,6%) provinsi di Indonesia selama kurun waktu 5 tahun terakhir (2004-2008) cenderung tetap bahkan naik, khususnya di daerah luar pulau jawa. Karena begitu eratnya populasi ayam kampung ini dengan dengan populasi manusia,pengembangan ayam kampung pun tidak lepas dari pengembangan kesadaran manusianya sendiri. ayam kampung yang baik produktivitasnya adalah ayam kampung yang mendapatkan perhatian dari pemiliknya karna erat kaitannya antara ayam kampung dengan kepadatan manusia dan pemeliharaan ayam kampung yang sukses harus di dukung dengan peningkatan pengetahuan pemiliknya.

AYAM BURAS DAN AYAM KAMPUNG

Perhatian banyak pihak untuk mengembangkan ayam kampung ternyata tidak surut dari tahun ke tahun. berbagai penelitian lokal dilakukan oleh lembaga penelitian serta perguruan tiggi. begitu pula dengan nama, banyak istilah baru yang muncul, diantaranya ayam buras ( bukan ras ). masyarakat pun mengartikan ayam buras sebagai ayam kampung. Realitinya, ayam kampung termasuk dalam ayam buras.
Ayam buras ( bukan ras ) merupakan ayam lokal Indonesia. Ayam lokal Indonesia yang menyebar di seluruh kepulauan Indonesia memiliki beberapa rumpun dengan karakteristik morfologis yang berbeda dan khas berdasarkan daerah asal. Sampai saat ini telah didentifikasi sebanyak 31 rumpun ayam lokal, yaitu ayam kampung, pelung, sentul, wareng, lamba, ciparege, banten, ngarak, rintit/walik, siem, kedu hitam, kedu putih, cemani, sedayu, olagan, nusa penida, merawang/merawas, sumatera, balenggek, melayu, nunukan, tolaki, maleo, jepun, ayunai, tukung, bangkok, brugo, bekisar, canghegan, cukir/alas, dan kasintu (Natasasmita, 2000), Dan ayam kampung super.
Tidak mudah untuk menari atau mengganti istilah dalam peternakan yang sesuai dengan maksudnya. Seperti halnya istilah ayam broiler untuk ayam ras, istilah tersebut merupakan istilah asing. Namun, hingga kini sulit untuk mencari kata pengganti broliler ke dalam bahasa  Indonesia yang tepat dan sesuai dengan arti ayam itu dari sudut ilmu peternakan unggas. Oleh karena itu, kembali ditekankan bahwa yang di maksud dengan ayam kampung dalam blog ini, terbatas pada ayam lokal yang sudah lama dikenali. Sebenarnya, istilah ayam kampung mempunyai dua makna, yaitu dilihat dari sudut pandang wilayah dan dari sudut klasifikasi. Makna pertama dari sudut pandang wilayah atau geografis berhubungan kuat dengan sistem sosio-budaya masyarakat yang telah lama melihat dan mengenal ayam ini. Proses penjinakan, bahkan kehidupan bersama  antara ayam ini dengan masyarakat, sudah berlangsung sejak ratusan tahun yang lalu. Hal ini karena pola kehidupan masyarakat dahulu berorientasi di desa-desa atau di kampung sehingga ayam tanpa nama  itu diberi nama ayam kampung tanpa dilakukan klasifikasi apa pun. Tidak heran apabila kemudian ayam ini berkembang sesuai dengan pola kehidupan dan kemampuan masyarakat setra berkembang sesuai wilayah penempatannya.
Maka kedua ialah berdasarkan klasifikasinya. Ayam kampung  diberi nama atau ditempatkan sesuai dengan arah kemampuan serta tujuan pemeliharaan ayam tersebut. Ayam kampung dapat dipelihara untuk diambil keindahan bulu, keindahan suara, dan kemampuan bertarung. Ayam kampung yang sesuai dengan klasifikasi atau makna kedua ini  di antaranya ayam pelung dan ayam bangkok. Semua ayam tersebut termasuk dalam ayam kampung.
Ayam kampung maupun ayam ras memiliki ciri khas masing-masing. Ayam ras memiliki sifat genetis yang beragam. Ayam ras petelur putih semuanya berbulu putih dan bila telur dari induk ditetaskan, anaknya pun akan berbulu putih. Ayam kampung memiliki ciri khas tersendiri. Ayam kampung dapat diketahui dari bentuk tubuh yang ramping, kaki yang panjang, dan warna bulu yang beragam. Salah satu ciri khasnya adalah sifat genetisnya yang tidak seragam. Sifat fenotipe dan genotipe ayam kampung masih sangat bervariasi seperti warna bulu yang masih beragam, yaitu berwarna hitam, tipe liar, pola kolumbian, dan bulu lurik (Sulandari et al., 2007). Hal ini merupakan cermin dari keragaman genetisnya. Keragaman genetis ini memudahkan untuk dilaukan persilangan-persilangan. Salah satu hasil persilangan tersebut adalah ayam bakisar, ayam sentul, dan ayam kampung super. Untuk memperoleh kemampuan genetis ayam kampung yang andal dan baku membutuhkan waktu yang sangat lama.