Saturday, 22 March 2014

KIAT SUKSES BUDI DAYA GURAMI DI KOLAM TERPAL

  • Gunakan Kolam Terpal Yang Beralaskan Sekam
Kolam terpal "biasa" sebenarnya tidak cukup untuk mengoptimalkan hasil budi daya gurami. Selain itu, risiko kegagalan bisa terjadi akibat fluktuasi suhu. Karena itu, jenis kolam terpal yang di bahas dalam blog ini berupa kolam terpal yang dilengkapi dengan alas sekam. Kolam terpal seperti ini telah terbukti mampu mengurangi fluktuasi suhu. Ada sebuah kasus terkait fluktuasi suhu ini yang dialami seorang pembudidaya. Tingkat kematian bibit gurami yang di tebar di kolam terpal miliknya cukup tinggi akibat perbedaan suhu yang drastis.
  • Gunakan Benih Yang Seinduk, Seumur, Seukuran, dan Sehat
Salah satu faktor penting untuk menunjang keberhasilan budi daya gurami adalah penggunaan benih yang bermutu. Prinsip yang dapat digunakan untuk mendapatkan benih berkualitas yakni seinduk, seumur, seukuran, dan sehat.
Benih yang digunakan harus dari indukan yang sama. Jika tidak, berisiko terjadi perbedaan bobot akibat kemampuan penyerapan nutrisi dalam pakan. Selain itu, benih yang digunakan tidak berasal dari indukan yang sedarah. Karena itu, membeli benih sebaiknya hanya di tempat yang telah dipercaya atau teruji pengalamannya.
Kualitas benih menentukan efisiensi penyerapan pakan. Benih gurami grade I dan II memiliki food convertion ratio (FCR) lebih kecil, sekitar 1,2-1,4 sehingga penggunaan pakan lebih efisien. Untuk menghasilkan gurami yang berbobot 1 kg diburuhkan pakan sebanyak 1,2-1,4 kg. Sementara itu, benih grade III dan IV memiliki nilai FCR mencapai 1,8. Selain berdasarkan kualitas genetiknya, pilih benih yang kondisinya normal dan terlihat sehat.
  • Terapkan Manajemen Budi Daya yang Baik
Selain menggunakan alas sekam, keberhasilan budi daya gurami di kolam terpal juga ditentukan oleh kedisiplinan menjalankan manajemen budi daya dengan baik. Misalnya, melakukan pemupukan dan penggaraman kolam secara rutin, satu minggu sebelum benih di tebar pada awal budi daya. Selain itu, Melakukan pembersihan dan pengeringan kolam sebelum di gunakan kembali. Karena itu, persiapan kolam menjadi faktor penting untuk menciptakan kondisi kolam yang optimal untuk pertumbuhan benih. Dengan perlakuan seperti ini diharapkan tingkat kematian benih dapat ditekan. Kegiatan lain yang tidak kalah penting dalam budi daya gurami di kolam terpal adalah penyifonan. Perinsipnya, di dasar kolam terpal tidak terdapat tanah dan mikroorganisme pengurai kotoran. Karena itu, sisa pakan dan kotoran di dalam kolam harus dikeluarkan. Salah satunya dilakukan dengan teknik penyifonan. Penyifonan minimum dilakkan satu bulan sekali. Teknik penyifonan ini akan di bahas di ulasan berikutnya.
Selain penyifonan, pemberian probiotik juga cukup penting untuk menjaga kualitas agar tetap baik. Penggunaan probiotik dapat mengoptimalkan penyerapan nutrisi pakan sehingga dapat mengefisiensikan penggunaan pakan dan mengoptimalkan penambahan bobot gurami.
Selain itu, manajemen budi daya lainnya yang harus di lakukan selama masa pemeliharaan, di antaranya memberi pakan secara teratur, menjaga lingkungan budidaya dari berbagai gangguan, serta menjaga kebersihan dan kerapihan lingkungan budi daya.
semoga bermanfaat bagi Anda......

Saturday, 15 March 2014

MANFA'AT KOLAM TERPAL

  • Padat Tebar Lebih Tinggi
Penggunaan kolam terpal pada budi daya gurami dapat meningkatkan padat tebar benih. Contohnya, padat tebar pada pembesaran gurami di kolam tanah hanya 6 ekor/m persegi dengan benih berukuran 250 gram. Sementara itu, padat tebar di kolam terpal dapat ditingkatkan hingga 10 ekor/m persegi. Pasalnya, di bagian dasar kolam tanah lama-kelamaan dapat terjadi penumpukan amonia (NH3) dan hidrogen sulfida (H2S) yang berasal dari sisa pakan dan kotoran ikan. Kedua senyawa tersebut bersifat racun sehingga ikan tidak berani menyelam lebih dalam. Akibatnya, ruang gerak ikan menjadi terbatas (lebih sempit). Sementara di kolam terpal, konsentrasi amonia dan H2S dapat di minimal kan dengan penyifonan yang teratur.
  • Suhu Kolam Lebih Setabil
Dalam pembuatan kolam terpal, penulis selalu menaburkan sekam di dasar kolam-sebelum terpal di pasang. Alas sekam ini mampu menahan fulktuasi suhu di kolam. Di kolam semen, tanah, dan terpal tanpa alas sekam umumnya terjadi perubahan suhu hingga 9% C (fluktuasi suhu idealnya 5% C). Misalnya, suatu saat suhu di kolam 33 derajat C, dapat berubah menjadi 24 derajat C saat terjadi perubahan musim. Sementara itu, di kolam terpal yang menggunakan alas sekam mampu mempertahankan suhu dengan kisaran 28 derajat C. Suhu tersebut relatif ideal bagi pertumbuhan ikan gurami.
Perubahan suhu yang ekstrem dapat berakibat buruk terhadap ikan di dalam kolam. Khusus untuk benih, perubahan suhu dapat menyebabkan kematian. Sementara itu, pada masa pembesaran, perubahan suhu yang ekstrem dapat menyebabkan nafsu makan ikan menurun sehingga dapat menghambat pertumbuhan bobot. Pada kondisi suhu tidak ideal, ikan menggunakan 6% protein untuk bertahan hidup ketimbang meningkatkan bobot. Akibatnya, panen menjadi mundur hingga 1,5 bulan dari kondisi normal.
  • Waktu Budi Daya Lebih Cepat
Periode budi daya gurami menggunakan kolam terpal menjadi lebih cepat di bandingkan dengan budi daya gurami sistem konvensional (tanpa perlakuan khusus). Artinya, periode budi daya gurami di kolam terpal lebih cepat 5-6,5 bulan daripada periode budi daya sistem konvensional. Namun, perlu diperhatikan bahwa kolam terpal harus dilengkapi sekam sebagai alas kolam dan dengan pemberian probiotik (di bahas di bagian selanjutnya dari blog ini). Waktu budi daya yang lebih cepat tentu dapat menurunkan biaya  oprasional terutama biaya pakan sehingga secara tidak langsung dapat meningkatkan keuntungan.
  • Lebih Fleksibel Mengikuti Kontur Tanah
Banyak kasus kolam tembok untuk budi daya perikanan mengalami kerusakan-seperti retak, bocor, bahkan "patah" akibat tanah yang "ditempati" kolam tidak kuat menahan beban kolam atau perubahan kontur tanah. Kolam seperti ini tidak dapat digunakan kembali atau setidaknya harus direnovasi dahulu. Permasalahan seperti ini tidak akan ditemui jika menggunakan kolam terpal. Pasalnya, kolam terpal lebih fleksibel sehingga memungkinkan untuk mengikuti kontur tanah yang berubah.
  • Pemanenan Menjadi Lebih Mudah
 Pemanenan di kolam terpal cukup mudah dilakukan. Pasalnya, Petakan kolam terpal umumnya tidak terlalu besar. Kondisi kolam yang relatif bersih tanpa adanya lumpur layaknya di kolam tanah juga memudahkan pemanenan. Kelebihan lainnya, masa recovery (pembersihan dan pengeringan) kolam setelah panen dan sebelum di gunakan kembali menjadi lebih cepat dibandingkan dengan jenis kolam lainnya.
Total waktu yang dibutuhkan untuk membersihkan dan pengeringan kolam terpal sebelum digunakan kembali hanya beberapa jam. Pembersihan dan pengeringan kolam berguna untuk memutus mata rantai penyakit. Sementara itu, di kolam tanah biasanya di lakukan pengeringan kolam dan pengapuran yang membutuhkan waktu lebih dari satu hari.
  • Hasil Panen Tidak Berbau Lumpur
Kualitas ikan gurami yang di budidayakan di kolam terpal lebih baik karena dagingnya tidak berbau lumpur. Berbeda jika budi daya dilakukan di kolam tanah. Dagingnya kadang-kadang tercium bau tanah. Hasil panen dari kolam terpal ini dapat langsung dijual dan ikan tidak perlu diberok. Gurami yang tidak berbau lumpur ini  relatif lebih disukai konsumen.

Saturday, 8 March 2014

PELUANG USAHA MODAL KECIL UNTUNG BESAR

Berbagi Keunggulan Budi Daya Gurami di Kolam Terpal/plastik

  • Hemat Biaya dan Tahan Lama
Hemat biaya merupakan salah satu keunggulan kolam terpal/plastik sebagai sarana budi daya gurami dibandingkan dengan kolam tembok. Sebagai perbandingan, kolam tembok berukuran 4 x 8 x 1 meter yang di buat menggunakan batako membutuhkan sekitar 1.200 buah batako. Jika satu batako harganya Rp 2.000, total pembuatan kolam tembok dapat mencapai Rp 2.400.000. Jumlah tersebut belum ditambah biaya pembelian semen, pasir, dan ongkos pembuatannya. Singkatnya, pembuatan satu kolam semen ukuran 4x8x1 meter dapat menghabiskan dana hingga RP5.000.000.
Sementara itu, kolam plastik/terpal di bawah permukaan tanah yang berukuran4x8x1 meter biasanya di buat menggunakan terpal berukuran 6 x 10 meter dengan harga sekitar Rp348.000. Perhitungannya, Rp5.800/m persegi dikali 6 x 10 = Rp348.000. Di tambah biaya pembelian sekam dan biaya pembuatan kolam. Jadi, total biaya yang dibutuhkan hanya sekitar 700.000. apalagi kalau media plastik bakalan lebih kecil biayanya.

Selain biaya pembuatannya yang murah, daya tahan kolam terpal/plastik pun cukup lama. Kolam terpal dapat digunakan hingga 4-5 tahun. Agar daya tahannya optimal, budi daya harus dilakukan dengan hati-hati agar terpal tidak mengalami kerusakan, seperti bolong atau robek. Terutama, saat pembuatan kolam atau saat panen. Selain itu, lokasi budi daya harus di jauhkan dari risiko yang dapat menyebabkan terpal rusak, seperti anak-anak yang bermain di sekitar kolam. Salah satu tip untuk menjaga keawetan terpal/plastik, yakni dengan menutupi bagian terpal yang terdapat di tepi kolam menggunakan rumput atau batu bata. Pasalnya, jika terkena sinar matahari langsung, terpal akan cepat rusak (daya tahan umumnya hanya 2 tahun).
  • Bisa Diaplikasikan di Lahan Porous dan Daerah Kurang Air
Kolam terpal merupakan solusi budi daya gurami di daerah yang memiliki tanah porous (kurang mampu menahan air), seperti tanah berpasir (di daerah pesisir pantai). Air di kolam yang dibangun di tanah porous biasanya akan terus berkurang akibat meresap ke dalam tanah.  Keuntungan menggunakan jenis kolam terpal salah satunya tidak perlu sering menambahkan air ke kolam budi daya. Selain itu, permukaan atas kolam terpal bisa di arahkan menghalau burung pantai pemakan ikan dengan cara menutupi bagian atas kolam menggunakan tali yang dibentangkan.
Kolam terpal juga dapat diaplikasikan di daerah yang sulit mendapatkan air. Pasalnya, jenis kolam ini tidak menggunakan sistem penggantian air secara terus-menerus, tetapi hanya sebulan sekali saat dilakukan penyifonan. Selain itu, air di dalam kolam setelah panen dapat digunakan kembali untuk siklus budi daya selanjutnya setelah dilakukan penjernihan secara sederhana. Karena itu, kolam terpal dinilai lebih hemat air dan cocok diterapkan di daerah yang sulit mendapatkan air.

Cara pembuatan kolam plastik

Untuk pembuatan kolam plastik untuk budidaya ikan gurami tidak ada ukuran yang pasti, bahkan lebih besar lebih bagus karena jika kolam plastik berukuran besar maka akan mempengaruhi pertumbuhan ikan gurami, ikan gurami akan cepat tumbuh jika kolamnya luas. Jadi saya sarankan jika Anda mau ternak gurami media plastik pembuatan kolamnya semampu lahan yang ada lebih bagus ukuran yang besar. Cara-caranya sebagai berikut:
  • Penggalian tanah
Pertama Anda harus menggali tanah/meratakan tanah yang mau di buat kolam plastik, bentuk kolam sebaiknya seperti katel penggorengan cekung ke tengah, biar nanti untuk pembuangan air lebih mudah tidak ada air yang nyangkut di kolam tersebut.
Contohnya
Di tengah cekungan kolam sebaiknya di kasih pembuangan air karena dikala hujan takutnya kebanjiran dan ikan ikut terbawa lepas.
  • Pembuatan Tanggul
Pembuatan tanggul/ pinggir kolam plastik bisa menggunakan media bambu atau dengan semen. Bisa juga langsung menggunakan tanah yang ada dari bekas penggalian tadi, di buatkan menjadi tanggul pinggir kolam tersebut. Untuk ukuran tinggi tanggul minimal 30 cm.
  • Pemberian sekam
Sebelum plastik di pasangkan, lebih baiknya Adnda menaburi sekam terlebih dahulu sebagai alas plastik, biar plastik tidak sobek atau bolong di akibatkan terkena yang tajam-tajam. Amparkan sekam dengan merata di bagian kolam.
  • Pemasangan plastik
Sesudah sekam dihamparkan, baru plastik di pasangkan. Sesudah plastik di pasang sebaiknya plastik cuci terlebih dahulu menggunakan air yang bersih, kemudian gosok dengan kain basah, biar hilang bahan kima dari pabrik plastik tersebut. Setelah plastik di cuci bari di airi sungai untuk memulai budidaya gurami tersebut.

Pembibitan gurami

Untuk pembibitan gurami sebaiknya Anda membeli telur gurami. Perawatan telur sebaiknya jangan di lepas di kolam plastik terlebih dahulu, Anda simpan di baskom besar selama 1 minggu, setelah telur gurami berubah menjadi larva gurami atau mulai berbentuk ikan, baru Anda memindakannya ke kolam pelastik yang sudah Anda sediakan terlebih dahulu. Jumlah telur biasanya dalam satu sarang indukan gurami mencapi rata-rata 5000 butir telur, bahkan ada juga yang lebih tergantung indukan gurami tersebut. Pakan larva gurami Anda bisa mengunakan dengan cacing rambut sampai ukuran ikan gurame mencapai 1 cm lebar tubuhnya bukan panjang tubuhnya.
Harga gurami yang berukuran 1 cm biasanya di hargai oleh bandar gurami dengan harga Rp 450. berarti Anda punya penghasilan dari satu sarang gurami sekitar Rp 2.250.000 selama kurang lebih 2 bulan. Dan bisa lebih cepat waktunya jika ukuran kolam Adna berukurang yang besar. Jika Anda beternak gurami beli 3 sarang telur gurami berarti Anda dalam 2 bulan bisa menghasilkan sekitar Rp 6.750.000 sangat luar biasa bukan hasilnya?? Sedangkan harga telur gurami per sayang biasanya di hargai sebesar Rp 100.000 rupiah saja, masih terjangkau bukan tidak menguras saku Anda, dan hasilnya sangat luar biasa. Intinya usaha budidaya ikan gurami media kolam plastik memang sangat menguntungkan, dan perawatannyapun sangat mudah di jalankan.

Perawatan Ikan gurami

Perawatan ikan gurami media kolam plastik sangatlah mudah. Yang harus kita jaga adalah air kolam tersebut jangan sampai berbau, jika air tetap seteril gurami Anda bakalan sehat dan sejahtera he he, asalkan jangan lupa mengasih pakan ikan gurami. Jika Anda tidak mengasih pakan, maka gurami Adna akan sangat menyesal di ternak oleh Anda, dan hasilnya pun akan minim, sayangi ternak Anda alhasil yang di ternak akan betah dan akan menghasilkan yang maksimal. Sekian dan terimakasih sudah berkunjung ke rumah peternakan & pertanian, selamat mencoba dan semoga berhasil dan sukses selalu amin.....
 
 

Saturday, 1 March 2014

PELUANG BISNIS BUDIDAYA

Peluang Usaha Budidaya Gurami

Gurami merupakan ikan konsumsi air tawar yang banyak digemari karena kelezatannya. Dagingnya yang tebal dan gurih menjadikan ikan konsumsi ini banyak digemari oleh banyak orang. Meskipun harganya relatif mahal, penggemar ikan ini tidak berkurang, bahkan semakin bertambah dari hari ke hari. Buktinya, semakin banyak rumah makan dan restoran yang menjadikan aneka olahan gurami sebagai menu andalannya, baik rumah makan tradisional maupun restoran papan atas. Selain itu, kebutuhan pasar tradisional dan supermarket terhadap komoditas gurami juga mulai meningkat. Hingga saat ini, pasokan gurami hanya mengandalkan dari beberapa sentra budi daya, seperti parung dan Ciamis (Jawa Barat), Cilacap, Banyumas (Jawa Tengah), Tulungagung, dan Blitar (Jawa Timur). Pasokan dari berbagai daerah ini nyatanya masih belum belum bisa memenuhi semua permintaan. Karena itu, peluang usaha budi daya gurami masih terbuka lebar bagi Anda yang akan memulainya.

Harga Stabil, Tetapi Pasokannya Kurang

Permintaan gurami ukuran konsumsi di beberapa daerah masih cukup besar. Misalnya, permintaan pasar lokal di Jakarta dapat mencapai 120 ton/hari. Bahkan, permintaan pasar untuk gurami ukuran konsumsi di Yogyakarta yang hanya 5 ton/hari baru bisa di penuhi pembudidaya sekitar tujuh persennya. Berbagi sentra budi daya gurami maupun pengepul di berbagai daerah umumnya masih belum mampu memenuhi seluruh permintaan yang datang. Selain itu, permintaan benih juga cukup besar. Permintaan benih ukuran silet di Yogyakarta dari satu daerah seperti Bogor bisa mencapai 10.000 ekor/hari.
Karena tingkat permintaan yang tetap tinggi, harga benih dan gurami ukuran konsumsi relatif setabil. Di Yogyakarta, harga gurami ukuran konsumsi di tingkat pembudidayaan mencapai Rp 22.000/kg. Kondisi harga ini menunjukan semakin meningkatnya harga gurami. Pasalnya, sekitar tiga tahun yang lalu, harga di tingkat pembudidayaan hanya Rp 17.000-Rp 18.000/kg. Sementara, di Kalimantan harga gurami ukuran konsumsi dapat mencapai Rp 40.000/kg atau bahkan lebih. Apalagi di tahun sekarang harga gurami semakin naik dan naik.

Peluang Usaha Setiap Segmen Budi Daya

Secara garis besar, segmen budi daya gurami terbagi atas pembenihan, pendederan, dan pembesaran. Pembenihan meliputi kegiata pemeliharaan induk, pemijahan, penetasan telur, dan perawatan larva.
Segmen pendederan gurami terbagi atas empat bagian, yaitu pendederan I, II, III, dan IV. Pendederan I merupakan pemeliharaan larva hingga mencapai benih ukuran kuku (1-2 cm). Pendederan I biasanya dilakukan selama satu bulan. Sementara itu, pendederan II merupakan pemeliharaan benih ukuran kuku hingga mencapai ukuran silet (7-8 cm). Pendederan II dilakukan selama 2-3 bulan. Pendederan III merupakan pemeliharaan gurami ukuran silet hingga mencapai ukuran 3-4 jari (50 gram/ekor). Pemeliharaannya dilakukan selama 3-4,5 bulan. Pendederan IV adalah pemeliharaan gurami ukuran 50 gram/ekor. hingga 250 gram/ekor. Pendederan IV dilakukan selama 6-8 bulan.
Sementara itu, pembesaran gurami bertujuan menghasilkan gurami ukuran konsumsi, yaitu pemeliharaan gurami ukuran 250 gram/ekor hingga mencapai ukuran 700-800 gram/ekor. Periode pembesaran berlangsung selama 5-7 bulan.
Perbedaan lama waktu budi daya setiap segmen pemeliharaan tergantung atas teknis budi daya yang dilakukan. Budi daya sistem konvensional seperti pemberian pakan yang kandungan proteinnya  tidak di sesuaikan dengan kebutuhan gurami atau hanya memberikan pakan 'seadanya' akan semakin memperlama masa budi daya. Terlebih, tidak ada perlakuan khusus seperti pada budi daya intensif, misalnya pemberian probiotik di kolam dan pakan. 
Adanya beberapa segmen tersebut dapat membantu pembudidaya untuk memilih salah satu jenis usaha. Pemeliharaan tersebut biasanya dipengaruhi oleh modal yang dimiliki dan pertimbangan jangka waktu perputaran modalnya. Patokan segmen budi daya di atas tidak mengikat untuk setiap daerah. Pasalnya, benih gurami dapat dijual berbagai ukuran, tergantung atas permintaan masing-masing daerah.
Dari lima segmen budi daya, salah satu segmen usaha yang paling cepat perputaran modalnya adalah usaha pendederan II, yakni budi daya benih dari ukuran kuku ke silet. Pasalnya, waktu budi daya  hanya tiga bulan menggunakan sistem konvensional. Bahkan, jika menggunakan sistem budi daya intensif, periode pemeliharaannya hanya dua bulan. Bahkan, perputaran modal untuk usaha penetasan telur gurami lebih singkat, hanya 20-40 hari. Sebagai gambaran, harga beli telur gurami sekitar Rp 30/butir. Pada saat benih berumur 20 hari dapat di jual dengan harga Rp 70/ekor, sedangkan benih berumur 40 hari dapat dijual dengan harga Rp 150/ekor.

Catatan Penting

Pemilihan salah satu segmen usaha gurami yang akan dijalankan harus mempertimbangkan aspek pasokan dan pasar penyerap hasil budi daya. Misalnya, pembudidaya memilih segmen pembesaran benih ukuran kuku hingga silet, maka pembudidaya harus jelas mengetahui dari mana mendapatkan sumber benih ukuran kuku dan pastikan mengetahui pasar untuk menjual benih ukuran silet.

Saturday, 22 February 2014

IDE BISNIS RUMAHAN YANG SUKSES

Sebenarnya banyak sekali ide-ide bisnis/usaha rumahan bahkan bisa  buat usaha sampingan yang bikin kita sukses. Tapi kali ini Rumah Peternakan akan mengulas tentang usaha rumahan atau usaha sampingan di bidang peternakan ayam kampung, usaha peternakan ayam kampung sangat menjanjikan dan dalam pengurusan dapat juga dijadikan usaha sampingan/rumahan.
Ayam kampung perlu dipelajari dan diketahui cara-cara pemeliharaannya yang baik dan benar. Dengan pemeliharaan yang baik dan benar, ternak yang dipelihara akan tumbuh optimal sesuai harapan. Ternak pun dapat hidup dan berproduksi dengan baik sesuai dengan perawatan dan pemeliharaan yang diberikan oleh peternak.

Sistem Pemeliharaan Ayam Kampung



di bidang peternakan dikenal tiga sistem pemeliharaan sebagai berikut:

  • Sistem pemeliharaan ekstensif
Pada cara ini tidak ada campur tangan manusia sebagai pemiliknya. Ternak hanya dilepas begitu saja dan akan datang sendiri di malam hari. Pemilik tidak memberikan apa-apa dan mengambil ternaknya ketika ia butuh uang atau bila ada niat hajatan. Ternak memberikan imbalan yang besar kepada pemiliknya, tetapi pemilik tidak sedikit pun memberikan perhatian pada ternaknya. Cara ini banyak ditemukan di negara-negara yang peternakan dan pengetahuan peternakan belum maju. Di Indonesia, cara ini banyak dilakukan oleh peternakan-peternakan rakyat.
Cara ini di sebut sebagai cara tradisional, yaitu ayam dilepas bebas untuk berkeliaran di kebun-kebun sekitar rumah. Ayam kampung yang dilepas bebas biasanya mempunyai tingkat kekebalan yang tinggi dan menghemat biaya makanan. Umumnya ayam cukup diberi makan pagi saat akan dilepas. Makanan tersebut berupa sisa-sisa makanan dan tambahan bekatul secukupnya. Selebihnya, ayam di anggap dapat mencari makan sendiri di sekitar rumah. Kelemahan cara pemeliharaan ini di antaranya ayam lambat untuk berkembang lebih banyak karena tingkat kematian pada anak ayam relatif lebih tinggi, waktu mengasuh terlalu lama yang berarti mengurangi produktivitas, kendala akan keberadaan ayam kurang sehingga persentase kemungkinan di mangsa predator maupun hilang lebih tinggi. Cara pemeliharaan ini mengakibatkan ternak kurang produktif.
  • Sistem Semiintensif
 Sistem ini sudah mulai ada campur tangan pemeliharaan. Pemeliharaan sudah memulai menerapkan pengetahuannya untuk meningkatkan produksi ternak. Akan tetapi, ternak masih dilepas. Hanya saja, ternak tidak sebebas pada sistem pemeliharaan ekstensif.
  • Sistem intensif
Sistem ini sudah mulai ada campur tangan pemeliharaan. Pemeliharaan sudah memulai menerapkan pengetahuannya untuk meningkatkan produksi ternak. Akan tetapi, ternak masih dilepas. Hanya saja, ternak tidak sebebas pada sistem pemeliharaan ekstensif.
Sistem Intensif
Pada sistem ini, campur tangan manusia sepenuhnya sangat berperan dalam kehidupan ternak. Mulai dari ternak kecil hingga apkir serta mulai dari kebutuhan yang paling kecil hingga yang terbesar semuanya melibatkan campur tangan manusia. Ciri-ciri dari cara ini adalah diperlukan modal tambahan dan pengetahuan, tetapi hasil yang diperoleh jauh lebih baik dan memuaskan daripada sistem pemeliharaan ekstensif.
Ayam kampung yang dipelihara secara intensif dapat berproduksi sekitar 112 butir/ tahun atau sekitar 30,9% dan umur dewasa kelamin 148 hari (Direktorat Jendral Peternakan, 2006). Ayam buras dengan produksi telur selama 12 minggu sebesar 43,24% hen-day, jumlah telur 36,32 butir/ekor, bobot telur 30 g/butir dan rata-rata bobot telur sebesar 40 gram/butir (Zainudin et al., 2005).
Ketiga cara pemeliharaan ayam kampung tersebut telah diterapkan Indonesia. Banyak desa yang melakukan cara pertama, tetapi ada pula yang menerapkan cara kedua. Cara ketiga juga ada yang menerapkan. Penerapan cara pertama pada ayam kampung tidak hanya terjadi di negara kita saja. Di afrika, banyak pula yang melakukan cara pemeliharaan pertama dan kedua untuk ayam setengah liar. Desa-desa di inggris, ada pula yang menerapkan cara kedua (semiintensif) untuk ayam setengah liar. Cara pemeliharaan semiintensif memang gencar  diperkenalkan di desa-desa oleh para penyuluh lapang peternakan. Setiap ada kesempatan untuk praktik di desa, para mahasiswa dari fakultas peternakan atau fakultas kedokteran veteriner selalu memperkenalkan cara semiintensif ini. Mereka menyadarkan pemilik ayam kampung agar juga memperhatikan nasib ayam kampungnya. Walaupun itu hanya sekedar memberikan pecahan beras (menir) dan membawa ayamnya ke mantri hewan untuk di vaksin tetelo gratis. Cara-cara pemeliharaan yang lebih baik dan didukung dengan program seleksi yang baik, juga diperkenalkan oleh para penyuluh kepada penduduk desa.
Sebelum diuraikan tentang pemeliharaan yang selayaknya dilakukan untuk ayam kampung, akan dilihat terlebih dahulu tentang pemeliharaan yang ada kini.
Pemeliharaan ayam kampung yang seadanya di desa memang berlatar belakang sosial dan kurangnya pengetahuan masyarakat desa itu sendiri. Siapa pun sulit berkilah, bila kehidupan mereka di desa memang sederhana. Hal ini sudah dapat di duga bahwa perhatiannya terhadap ternak yang di peliharaannya juga kurang. Kecuali, bila mereka sudah menyadari benar bahwa ayam kampung yang dipeliharanya benar-benar mempunyai fungsi sebagai tabungan bagi mereka. Alasan inilah yang sering dijadikan titik tolak perbaikan sistem pemeliharaan ayam kampung bagi para penyuluh di desa-desa. Kadang kala mereka terlalu berlebihan memperhatikan ternak peliharaannya dibandingkan dengan dirinya sendiri.
Ayam kampung dapat tidur di sembarang tempat pada areal rumah pemiliknya seperti di bawah pohon, bertengger di dahan, di dapur, atau di gudang. Pagi hari ayam kampung beranjak dari tempat tidurnya, lalu pergi mencari makan sendiri. Berupa nasi, serangga, rurumputan, batu kecil, dan lain-lain. Sore harinya ayam pulang ke rumah pemilik dan berputar-putar dahulu mencari tempat berteduh. Begitulah terus-menerus hingga ayam itu bertelur atau di jual oleh pemiliknya.cara demikian sangat banyak dilakukan di desa-desa. Perhatian sedikit diberikan ketika ayam kampung itu bertelur atau sewaktu memelihara anaknya. Di sini pemeliharaan yang tak acuh terhadap ayamnya, memberikan tempat untuk ayam kampungnya bertelur. Ketika anak ayam sudah menetas, diberikan menir ala kadarnya. Setelah itu, pemilik kembali acuh tak acuh  dan tidak memperhatikan lagi. Memang orang-orang yang memakai cara pemeliharaan demikian mulai memperhatikan ayam kampung yang  dipeliharanya ketika ayam itu sudah menunjukkan hasil, yaitu di saat bertelur atau menetas. Dengan demikian, si pemilik merasa ada manfaat memelihara ayam kampung. Alasan inilah yang dijadikan dasar kuat untuk menyadarkan pemilik ayam kampung yang tak acuh terhadap ayamnya. Dengan mengajukan manfaat-manfaat secara ekonomis bagi kehidupan pemilik, penyuluh-penyuluh banyak memperoleh kemajuan untuk meningkatkan kesadaran pemilik.
Sedikit berbeda dari cara pertama tadi, pada cara kedua ini sudah ada perhatian pemilik. Pada umumnya mereka yang memakai cara ini sudah menyadari benar manfaat ayamnya sebagai penolong di kala membutuhkan uang. Pada cara ini pemilik setiap pagi membuka kandang ayam. Sementara itu, menir atau dedak (bekatul) ditaburkan di tempat makan. Setelah itu, ayamnya di biarkan berjalan-jalan di sekitar rumah. Siang hari kembali ayam itu diberi makan menir,dedak atau bekatul. Malam hari kandang di tutup dan jumlah ayam yang ada di hitung. Di sini sudah ada usaha untuk membuat kandang sehingga ayam tidak bermalam di sembarang tempat.
Kadang kala, gudang yang tak ter pakai dijadikan kandang. Walaupun belum memenuhi syarat kandang yang baik, tetapi sudah ada perhatian dan usaha menyediakan tempat khusus untuk ayam bermalam. Selain itu, di berika makanan tambahan, walaupun hanya sekedar menir atau dedak.
Cara pemeliharaan semacam ini banyak dilakukan oleh peternak yang tingkat ekonomi dan pengetahuannya relatif agak tinggi, terutama di daerah-daerah pantai utara pulau jawa dan di tapanuli, sumatra utara. Peternak yang memakai cara pemeliharaan ini membawa ayamnya ke mantri hewan untuk di vaksin tetelo. Cara ini juga banyak diterapkan di kota-kota. Ayam kampung yang dipelihara di kota memang tidak di berikan makanan secara khusus seperti halnya ayam yang dipelihara di desa. Ayam kampung tersebut dapat memakan sia-sia, bila dipelihara di perkotaan, tersebut di biarkan untuk mencari makanan di tempat-tempat sampah. Dalam keadaan tertentu, justru orang-orang kota yang memelihara ayam kampung sangat tak acuh terhadap ayamnya.
 
  sukses selalu para Anda yang usaha peternakan...

 
 


 

Saturday, 15 February 2014

CARA MEMULAI BISNIS

Perancangan Tenaga Kerja

Langkah selanjutnya meneruskan dari Cara Memulai Usaha Ternak Ayam Kampung adalah merancang tenaga kerja. Masalah ini menjadi penting karena dalam peraktik sehari-hari ternyata lebih sulit mengatur tenaga kerja dari pada mengatur ayam peliharaan. Lebih-lebih jika prinsip-prinsip manajemen peternakan tidak di terapkan dengan baik. 
Mengenai masalah tenaga kerja, ada dua pegangan yang mendasarinya, yaitu jumlah ayam kampung dan diri Anda sendiri sebagai peternak. Dengan kaitan dengan jumlah ayam, perlu diketahui bahwa peternakan ayam tidak menggunakan sistem padat karya, sekalipun cara manual yang di terapkan. Untuk cara manual, bila jumlah ayam yang di pelihara berkisar 150 ekor ke bawah, ayam dewasa yang produktif cukup di pegang oleh satu orang saja, baik untuk produksi maupun untuk kegiatan kandang. Dengan memakai cara kerja rotasi, satu orang cukup untuk menangani anak ayam dan ayam remaja. Bila jumlah ayam kampung yang Anda pelihara berupa 40 ekor anak ayam, 60 ekor ayam remaja, dan 90 ekor dewasa produktif, satu peria dewasa sudah cukup untuk tugas produksi. Hal ini karena kesibukan di peternakan bersifat temporer atau da sibuk di kala memberi pakan dan mengumpulkan telur. Selebihnya  hanya digunakan untuk membersihkan kandang dan lingkungan kandang mengawasi kesehatan, dan lain-lain. Sementara itu, untuk tugas penjualan, administrasi umum, dan persiapan bahan baku kandang, dilakukan oleh Anda sendiri. Jadi, dua orang pekerja meliputi Anda  dan satu tenaga kerja sudah cukup untuk menangani ayam dengan jumlah tersebut. Hal yang penting adalah bagaimana kelak Anda dapat mengatur waktu kerja  dan merancang tata kerja, bukan pada jumlah personalnya. Jumlah yang demikian itu mungkin kurang bila Anda merancang tata kerja yang mandiri hingga tingkat  penjualan. Di sinilah diperlukan tata kerja sesuai situasi dan kondisinya. Beberapa prinsip dasar akan di jelaskan sebagai berikut.
pertama, yang perlu dilihat adalah diri Anda sebagai peternak atau hanya sebagai pemilik saja. Hal ini kembali lagi pada tujuan beternak semula. Bila yang di kehendaki adalah sebagai peternak atau ingin terjun langsung mengelola peternakan, untuk itu, tingkatkan keterampilan dan pengetahuan diri yang masih kurang. Hal itu dapat dilakukan setelah niat beternak mulai tertanam. Akan tetapi,  bila hanya ingin sebagai pemilik, harus mempersiapkan orang yang dapat diterima sebagai wakil Anda dalam mengelola peternakan itu. Artinya ada orang lain yang akan di ambil atau kelak digaji untuk mengelola peternakan. Hal itu akan efisien bila jumlah ayam kampung dan aktivitas usaha Anda  luas dan besar. Bila usaha peternakan kecil dan hanya aktivitas produksi saja, sebaiknya Anda sendiri yang mengelola semua itu berpulang pada tujuan Anda beternak. Oleh karena itu, penentuan tujuan penting sekali dilakukan. Bila tujuan itu adalah komersial atau "asap dapur" dan Anda tergantung pada peternakan mungkin awalnya dimulai dari kecil dahulu. Awal yang kecil bila dikelola secara propesional dengan penerapan prinsip-prinsip bisnis dan manajemen, kelak akan menjadi besar.
Kedua, yang perlu dipertimbangkan adalah peran dan aktivitas peternakan, hanya produksi saja atau aktivitas  secara lengkap. Lengkap yang dimaksud  adalah dimulai dari membuat rensum, produksi kandang, dan pascaproduksi dilakukan sendiri. Dengan kata lain, jumlah tenaga kerja tergantung pada besar atau kecilnya aktivitas. Meskipun jumlah ayam kampung yang dipelihara ribuan, tetapi bila hanya aktivitas  produksi kandang saja, tidak banyak tenaga kerja yang terlibat. Jika ransum yang di gunakan ransum beli jadi serta pemberian ransum dan minum juga otomatis, yang dilakukan pekerja hanya membersihkan areal kandang sebagai tugas rutin dan mengawasi kesehatan, serta mengumpulkan telur. Untuk pekerjaan seperti itu, satu peria dewasa mampu memegang 6.000 ekor ayam kampung dewasa produktif. Jumlah ayam bukan sebagai ukuran untuk menentukan tenaga kerja yang akan digunakan. Jadi, sebelum peternakan di buka, sudah ditentukan aktivitas peternakan dan cara aktivitas itu diorganisir.
Setelah dua hal itu dipertimbangkan, langkah selanjutnya adalah mengetahui dahulu jenis tenaga kerja yang bisa digunakan oleh banyak peternak di Indonesia. Pertama, tenaga kerja tetap atau karyawan tetap yang sehari-hari mengelola peternakan, ada atau tidak ada yang di kandang. Karyawan tetap ini termasuk diri Anda sendiri atau anggota keluarga yang selalu membantu peternakan atau mengelolanya sehari-hari. Gaji mereka kelak kita masukan ke dalam biaya tetap peternakan. Berhati-hatilah dalam mengangkat tenaga tetapi ini karena ini ada atau tidak ada produksi, gaji harus tetap di bayar. Umumnya, mereka ini adalah tenaga pengelola inti untuk wakil Anda bila Anda hanya bertindak sebagai pemilik dan jumlah ayam yang dipelihara tidak banyak. Selain itu, ada tenaga kerja tidak tetap yang biasanya dikenal dengan buruh harian. Upah mereka di hitung hari per hari. Tidak masuk sehari, upahnya akan di potong. Mereka dibayar dalam hitungan hari walaupun upahnya kelak dibayar tiap akhir pekan.
Untuk yang terakhir ini, dibagilagi dengan tenaga borongan atau kerja kontrak kerja. Umumnya, buruh harian digunakan untuk pekerjaan kasar yang bersifat temporer.
Karena umumnya peternakan mempunyai sifat fluktuatif dalam produksi dan pemasaran, sistem buruh harian inilah yang ternyata lebih mendominasi jumlah tenaga kerja di suatu peternakan ayam. Bila suatu saat pasaran lesu dan aktivitas dikurangi, dengan mudah mereka diberhentikan karena memang perjanjiannya sebagai buruh harian.

Saturday, 8 February 2014

PANDUAN PEMBUATAN KANDANG AYAM YANG BAIK

Pada kesempatan ini Rumah Peternakan akan menjelaskan tentang pemilihan sistem kandang ayam yang baik melanjutkan dari sebelumnya tentang cara memulai usaha ternak ayam kampung.

Sistem Kandang Alas Litter Seumur Hidup

Sistem kandang dapat berupa kandang besar seperti kandang ayam broiler, kandang susun, atau kandang panggung. Kandang merupakan tempat ayam berada selama seumur hidup, mulai dari anak ayam hingga masa bertelur. Semakin bertambah usia ayam, kepadatan kandang semakin diperluas sesuai pertumbuhannya. Kandang sistem ini tidak mempergunakan kandang khusus anak ayam. Kandang dibangun, dibersihkan, lalu dipersiapkan peralatannya. Masa awal sudah dapat dimulai dengan masuknya anak ayam. sistem ini umumnya digunakan untuk beternak secara intensif yang dilakukan pada peternakan ayam broiler. Variasi dari sistem kandang ini adalah sistem kandang berhalaman. Dengan menggunakan sistem kandang ini, harus di siapkan halaman di tiap kelompok, bukan di tiap kandang. Setiap kelompok yang terdiri dari dua kandang, cukup disediakan  satu halaman di bagian depan muka tiap kandang yang menyatu.
Sistem halaman seperti ini umumnya untuk ayam kampung hias dan kegemaran, seperti ayam pelung, ayam bangkok, dan ayam bekisar, atau ayam kampung super. Kandang dengan sendirinya berfungsi untuk tempat beristirahat dan bertelur apabila tiba saatnya. Sistem halaman ini emang efektif ketika ayam memasuki usia dewasa atau sekitar 2,5 bulan. Kelebihan menggunakan sistem kandang litter  seumur hidup adalah memberikan keleluasaan ayam beraktivitas, khususnya pada kandang berhalaman. Sistem pemeliharaan seperti ini juga lebih tepat diterapkan dengan ayam kampung komersial, khususnya ayam kampung pedaging. Akan tetapi, kelemahan dari sistem kandang ini adalah membutuhkan areal yang luas, terlebih lagi pada sistem kandang berhalaman.

Sistem kandang kotak cage

Kandang kotak cage dapat dibuat dari kawat atau bambu. Apabila menggunakan sistem kandang ini, harus disiapkan pula kandang anak ayam terlebih dahulu. Ayam-ayam tersebut di masukan ke dalam kotak-kotak cage setelah lepas masa remaja. Kandang yang di bangun hanya untuk melindungi kotak-kotak cage tersebut. Fungsi kandang ini hampir sama dengan kandang ayam ras petelur. Pembangunan kandang  tidak begitu penting, yang terpenting adalah menyiapkan pemeliharaan anak ayam dan ayam remaja. Kandang dapat di buat sederhana dengan tiang dari balok dan atap dari genting. dindingnya dapat menggunakan kawat atau bilah babu agar binatang-binatang penyebar penyakit seperti burung gereja, tikus, dan siput tidak dapat masuk.
Keuntungan menggunakan sistem kandang kotak cage adalah dapat menghemat luas areal tanah. Sistem kandang kotak cage dapat menampung ayam peliharaan dengan jumlah lebih banyak dibandingkan dengan sistem kandang litter dengan luas area yang sama. Namun, biaya investasi yang dikeluarkan lebih besar karena harus membuat kandang anak ayam, kotak-kotak cage, dan kandang pelindung kandang cage.
Dengan mengetahui kelebihan dan kekurangan masing-masing sistem kandang, akan memudahkan menentukan sistem kandang yang paling tepat. Penentuan sistem itu kelak akan menentukan peralatan dan modal kerja yang harus di persiapkan. Salah satunya dapat dipilih untuk dipergunakan, sesuai situasi dan kondisi di peternakan atau lokasi peternakan itu akan di buka. Perlu di ketahui bahwa kandang tingkat dapat juga beralasan litter dan dapat di buat hingga tiga tingkat. Per unit dengan tiga tingkat dapat menjadi satu kelompok. Cara seperti itu dapat dipergunakan untuk peternakan ayam sekala kecil sampai menegah di pinggiran kota dan pedesaan dengan areal tanah terbatas. Umumnya mereka mengombinasikannya dengan sistem halaman.
Selanjutnya, yang perlu di rancang sebelum kandang di bangun adalah bahan bangunan pembuat kandang. Ada dua pertimbangan untuk itu, yaitu dibuat dengan biaya murah yang tahan lama, kecuali bila di seratkan bahan-bahan kimia pembantu. Jadi, pilihan sesuai dengan tujuan beternak. Bahan yang baik memang lebih mahal, tetapi tahan lama dan nlai baliknya menjadi lebih bermanfaat karena kandang dapat dipergunakan berkali-kali. Usaha peternakan ayam kampung yang masa produksinya dapat mencapai 1,5 tahun, belum mencapai titik impas bila hanya dua atau tiga kali masa produksi, apalagi dalam situasi pasaran lesu dan jumlah yang dipelihara kecil pula.
Bahan bangunan yang murah memang menyebabkan kandang yang di idamkan cepat terwujud. Akan tetapi, perlu di ingat bahwa kandang sederhana tidak identik dengan murahan. Hal yang penting adalah memilih bahan dan membangun kandang sesuai tujuan beternak ayam kampung.